Tidak Didukung AS, Sekjen PBB: Transisi Energi Global Tak Terbendung!
JAKARTA, sustainlifetoday.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menegaskan bahwa transisi menuju energi bersih secara global tidak dapat dihentikan oleh kelompok atau pemerintahan mana pun.
Hal itu disampaikannya dalam pertemuan tingkat tinggi bersama puluhan pemimpin dunia pada Kamis (24/4), menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB (COP30) yang akan digelar pada November mendatang di Brasil.
Dalam pertemuan yang turut dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, serta sejumlah pemimpin kawasan seperti William Ruto (Kenya), Gabriel Boric (Chile), Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Guterres menyerukan bahwa era energi terbarukan bukan hanya tak terelakkan, tetapi juga menjadi peluang ekonomi terbesar abad ini.
“Para pembangkang dan kepentingan bahan bakar fosil mungkin mencoba menghalangi. Namun seperti yang kita dengar hari ini, dunia sedang bergerak maju. Maju dengan kecepatan penuh,” ujar Guterres usai pertemuan bersama Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.
Namun, absennya perwakilan dari Amerika Serikat (AS) dalam forum ini mencolok, terutama mengingat kebijakan iklim yang berubah drastis di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump.
Diketahui, Trump sempat menarik AS keluar dari Perjanjian Paris serta mendorong ekspansi besar-besaran bahan bakar fosil, membalikkan arah kebijakan iklim dari era pemerintahan sebelumnya.
Baca Juga:
- Papua di Ambang Krisis Ekologi Akibat Proyek Food Estate Nasional
- BNI Dorong UMKM Berperan dalam Ekonomi Hijau Lewat Program BUMI 2025
- Ini Langkah Nyata Artha Graha untuk Bumi yang Lebih Lestari
Menanggapi hal ini dalam konferensi pers terpisah, aktivis lingkungan dan aktris Jane Fonda menyampaikan kritik tajam terhadap Trump, menyebutnya “berada di pihak kematian” karena dinilai merusak upaya pelestarian lingkungan global.
Sementara itu, Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa negaranya akan tetap berada di jalur iklim, terlepas dari dinamika geopolitik. Ia menyatakan bahwa China akan merilis kontribusi terbaru dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) sebelum COP30. NDC tersebut disebut akan mencakup seluruh jenis emisi gas rumah kaca (GRK), tidak hanya karbon dioksida.
Pernyataan-pernyataan ini memperkuat sinyal global bahwa meski transisi energi menghadapi tekanan dari kepentingan industri bahan bakar fosil, arah perubahan menuju energi bersih dan berkelanjutan tetap tidak tergoyahkan.
