Soroti Pembangunan Pabrik Bioetanol di Jawa Timur, Walhi: Harus Pertimbangkan Dampak Ekologis
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Rencana pembangunan pabrik bioetanol berskala nasional di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menuai sorotan dari pegiat lingkungan. Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan ekologis di Pulau Jawa yang daya dukung lingkungannya kian terbatas.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur menilai, kepadatan penduduk yang mencapai lebih dari separuh populasi Indonesia telah menjadikan Pulau Jawa sebagai wilayah dengan beban lingkungan yang tinggi. Karena itu, setiap proyek berskala besar, termasuk pabrik bioetanol, harus dikaji secara komprehensif dari sisi keberlanjutan ekologis.
“Daya dukung lingkungan hidup di Jawa sudah sangat terbatas. Proyek bioetanol sebagai PSN di Bojonegoro harus benar-benar mempertimbangkan dampak ekologisnya,” tegas Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur, Pradipta Indra, Minggu (14/12).
Walhi menyoroti rencana penggunaan sekitar 5.130 hektare kawasan hutan produksi untuk mendukung proyek tersebut. Meski berstatus hutan produksi, kawasan itu tetap memiliki fungsi ekologis penting sebagai daerah tangkapan air, habitat satwa, serta penopang kehidupan masyarakat sekitar.
Baca Juga:
- Bangun Sistem Gizi Ramah Lingkungan, BGN Dorong Replikasi Model Zero Waste SPPG Sukamantri
- Cegah Kerusakan Lingkungan Lebih Lanjut, KLH Segel Perkebunan Sawit PT TBS
- DPR Minta Penegakan Hukum Preventif untuk Cegah Kerusakan Hutan Kalimantan
“Alih fungsi hutan, jenis apapun, akan meningkatkan kerentanan wilayah dan potensi bencana hidrometeorologi,” jelas Indra.
Selain itu, Walhi mengkritisi kecenderungan pelaksanaan PSN yang dinilai kerap mengesampingkan kajian lingkungan hidup yang mendalam. Pemenuhan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) disebut sering kali tidak dijalankan secara serius.
“Dalam banyak kasus, PSN cenderung melangkahi aturan. Amdal sebagai alat ukur daya dukung lingkungan dan potensi risiko sering tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Kekhawatiran lain muncul dari rencana penggunaan bahan baku bioetanol berupa tanaman semusim seperti jagung dan sorgum. Menurut Walhi, tanaman jenis ini tidak memiliki kemampuan menyerap air sebaik pepohonan hutan, sehingga berpotensi meningkatkan risiko banjir sekaligus memperparah kekeringan di Bojonegoro yang selama ini dikenal rawan krisis air.
“Hilangnya hutan dapat memperburuk kerentanan Bojonegoro terhadap bencana kekeringan. Negara harus belajar dari bencana ekologis di daerah lain akibat kerusakan hutan,” pungkas Pradipta.
Sebagai informasi, proyek pabrik bioetanol di Bojonegoro direncanakan menelan investasi sekitar Rp22,8 triliun dan ditargetkan mulai dibangun pada 2027. Proyek ini akan memanfaatkan pasokan gas dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) serta lahan yang disiapkan oleh Perhutani.
Baca Juga:
