Studi UGM Ungkap Parasit pada Komodo, Soroti Pentingnya Sistem Deteksi Dini Kesehatan Satwa
Jakarta, sustainlifetoday.com – Komodo (Varanus komodoensis) sebagai kadal terbesar di dunia yang hanya hidup di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, Indonesia, terus menjadi fokus konservasi karena statusnya yang rentan punah (Vulnerable). Selama ini, upaya perlindungan lebih banyak berfokus pada populasi dan ekologi habitat, sementara aspek kesehatan satwa liar, khususnya penyakit parasit, masih relatif minim dikaji.
Penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan adanya cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen pada komodo liar. Parasit ini diketahui memiliki adaptasi berupa kapsul pelindung ganda pada telur, yang memungkinkannya bertahan di lingkungan sabana semi-arid tempat komodo hidup.
Guru Besar Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menilai temuan ini menunjukkan bahwa parasit tidak hanya dapat dipandang sebagai agen penyakit, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem.
“Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia memproyeksikan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategik,” ujarnya dikutip laman Universitas Gadjah Mada, Minggu (5/7).
Penelitian tersebut merupakan bagian dari disertasi mahasiswa doktor FKH UGM, drh. Aji Winarso, M.Sc., yang mengkaji keragaman parasit pada komodo liar melalui pendekatan multidisiplin, menggabungkan parasitologi klasik, taksonomi molekuler, dan ekologi lanskap dalam kerangka One Health.
BACA JUGA
- BMKG: Es Abadi di Puncak Jaya Bisa Hilang pada Akhir 2026
- Sistem Pendingin Kabut Jadi Andalan China Redam Panas Ekstrem di Perkotaan
- Empat Pelaku Penyembelihan Tapir Viral di Mesuji Ditangkap Polisi
Aji menjelaskan bahwa aspek kesehatan komodo liar masih belum banyak menjadi fokus dalam konservasi. Menurutnya, ancaman penyakit dapat menjadi faktor penting yang memengaruhi kelangsungan hidup satwa endemik di pulau kecil, terutama di tengah meningkatnya interaksi dengan manusia akibat aktivitas pariwisata.
“Penelitian ini bertujuan membangun data dasar (baseline) mengenai patogen dan parasit komodo untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak dini,” ujarnya.
Penelitian dilakukan dengan melalui perizinan resmi, termasuk ethical clearance dan izin akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan, serta koordinasi dengan Balai Taman Nasional Komodo. Pengambilan sampel dilakukan melalui feses, darah, dan ektoparasit komodo liar di habitat alaminya.
Sampel kemudian dianalisis secara morfologis menggunakan mikroskop, dilanjutkan dengan metode molekuler untuk memastikan identifikasi spesies parasit secara lebih akurat.
Aji menjelaskan bahwa keberadaan parasit seperti cacing usus maupun caplak merupakan kondisi yang umum pada satwa liar. Namun, peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat menurunkan daya tahan komodo.
Ia juga menyoroti temuan caplak komodo yang menggigit manusia di Pulau Rinca sebagai sinyal penting bagi pengelolaan kawasan konservasi, karena berpotensi menjadi vektor penyakit.
“Jika terjadi interaksi yang terlalu dekat tanpa batas antara komodo, satwa mangsa (seperti rusa dan babi), dan manusia di zona wisata, risiko lompatan penyakit sangat nyata,” ungkapnya.
Aji menekankan pentingnya penerapan sistem deteksi dini kesehatan berbasis One Health di kawasan Taman Nasional Komodo, termasuk pemantauan rutin parasit, pengawasan kesehatan satwa mangsa, serta penguatan biosekuriti bagi petugas dan wisatawan untuk mencegah risiko penularan penyakit lintas spesies.
