Studi Ungkap Banjir Besar di Sumatra Dipengaruhi Krisis Iklim dan Deforestasi
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Studi ilmiah terbaru kembali menguatkan keterkaitan antara krisis iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di Asia Tenggara. Badai mematikan yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terbukti tidak terjadi secara alamiah semata, melainkan dipengaruhi oleh pemanasan global dan deforestasi yang terus berlangsung.
Temuan ini disampaikan oleh tim peneliti World Weather Attribution (WWA), yang menilai bahwa Siklon Tropis Senyar memperoleh energi tambahan akibat suhu permukaan laut yang meningkat signifikan di Samudra Hindia Utara.
Melansir Reuters, para peneliti mengungkapkan bahwa suhu laut lebih tinggi 0,2°C dibandingkan rata-rata periode 1991–2020 selama puncak intensitas hujan. Kondisi tersebut memberi badai “bahan bakar” termal yang memperparah kekuatannya.
Mereka juga memperkirakan bahwa tanpa kenaikan suhu global sebesar 1,3°C sejak era pra-industri, permukaan laut di kawasan tersebut akan berada sekitar satu derajat lebih dingin pada akhir November.
Siklon tropis memang lazim terjadi pada musim hujan. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa badai kini menjadi lebih merusak, meskipun frekuensinya belum terbukti meningkat secara signifikan.
“Hal yang tidak normal adalah meningkatnya intensitas badai-badai ini dan bagaimana mereka mempengaruhi jutaan orang dan menelan ratusan nyawa,” kata Sarah Kew, peneliti iklim di Institut Meteorologi Kerajaan Belanda dan penulis utama studi tersebut, melansir Reuters, Jumat (12/12).
WWA menyebutkan, peningkatan curah hujan ekstrem akibat kenaikan suhu global diperkirakan dapat mencapai 9–50% di Selat Malaka, dan 28–160% di Sri Lanka.
Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa badai kini mulai terbentuk di wilayah yang sebelumnya jarang terdampak, dengan lintasan yang semakin sulit diprediksi. Terbentuknya Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka dinilai sangat tidak lazim, bahkan beberapa pakar menilai ini baru kali kedua dalam sejarah badai mendarat di Malaysia dari arah barat.
Baca Juga:
- Sindir SPBU Swasta yang Jual Kopi hingga Jasa Pijat, Bahlil: Apa Urusannya Sama Gua?
- Menag: Bahasa Agama Seperti Pahala dan Dosa Lebih Efektif Cegah Kerusakan Lingkungan
- BTN Dorong Ekonomi Hijau Lewat Pendidikan dan Pembiayaan Berkelanjutan
Sebelumnya, sebuah studi dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) pada 2023 juga menegaskan bahwa pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem.
“Studi kami menegaskan bahwa intensitas dan frekuensi hujan lebat yang ekstrem meningkat secara eksponensial seiring dengan meningkatnya pemanasan global,” kata Max Kotz, penulis utama studi yang terbit di Journal of Climate.
Penjelasan tersebut sejalan dengan prinsip fisika atmosfer klasik Clausius–Clapeyron, yang menyatakan bahwa udara hangat mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga hujan ekstrem lebih mungkin terjadi.
Meski berbagai model iklim mencoba memprediksi situasi ini, para peneliti menilai model-model tersebut cenderung meremehkan besarnya peningkatan curah hujan akibat pemanasan global.
“Curah hujan ekstrem akan lebih deras dan lebih sering terjadi. Masyarakat harus bersiap untuk hal ini,” kata Anders Levermann, kepala departemen PIK.
Baca Juga:
