Pemerintah Indonesia dan Jepang Sepakati Percepatan Proyek Panas Bumi dan Energi Bersih
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM memperkuat kerja sama bilateral dengan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang untuk mempercepat transisi energi nasional. Kemitraan strategis ini berfokus pada pengembangan proyek panas bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), Sustainable Aviation Fuel (SAF), amonia hijau, hingga tata kelola perdagangan karbon.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memaparkan bahwa kolaborasi ini menjadi motor penggerak untuk menarik investasi teknologi rendah karbon ke Indonesia. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah akselerasi dua proyek panas bumi prioritas, yaitu PLTP Sarulla dan PLTP Muaralaboh Unit 2.
“Untuk Sarulla, pemerintah terus mengupayakan pemulihan kapasitas pembangkitan melalui implementasi Long Term Restoration Plan dalam tiga tahap. Selain itu, Pemerintah juga secara aktif memberikan kepastian bagi investasi lanjutan guna memaksimalkan kapasitas pembangkit,” kata Eniya dikutip dari laman EBTKE, Selasa (21/7).
Pada saat yang sama, pengembangan PLTP Muaralaboh Unit 2 terus dipacu guna mendongkrak bauran energi hijau sekaligus menjamin keandalan pasokan listrik di Sumatra.
Proyek ini diproyeksikan mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan serapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta menggerakkan ekonomi lokal.
BACA JUGA
- Kemenag Luncurkan Aplikasi AMAN, Dorong Ekosistem Pendidikan Bebas Kekerasan
- Karyawan TASPEN Didorong Gunakan Transportasi Ramah Lingkungan Demi Reduksi Emisi
- Muhammadiyah Dorong Penyelamatan Lingkungan Jadi Standar Baru Keberhasilan Dakwah
Selain sektor panas bumi, delegasi Indonesia dan Jepang juga menyepakati perluasan Joint Crediting Mechanism (JCM). Mekanisme ini akan memfasilitasi percepatan implementasi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) serta perdagangan karbon berstandar internasional.
Pembahasan turut menyentuh progres PLTSa Legok Nangka di Jawa Barat, Green Ammonia Initiative in Aceh (GAIA), pemanfaatan SAF, serta kajian pembangkit nuklir skala menengah dan kecil.
Dalam pertemuan tersebut, Eniya juga melaporkan progres tata kelola manajemen energi di Indonesia yang didorong oleh regulasi efisiensi di sektor industri dan bangunan komersial.
“Hingga 2025, ratusan industri dan bangunan telah melaksanakan pelaporan melalui aplikasi Pelaporan Online Manajemen Energi (POME). Implementasi ini berkontribusi terhadap penghematan energi sekaligus penurunan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
