Danone: Sistem Galon Guna Ulang Pangkas Emisi Karbon Hingga 83 Persen
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penerapan sistem galon guna ulang pada industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbukti menjadi solusi operasional untuk menekan dampak kerusakan lingkungan. Penggunaan kemasan berulang ini mampu memangkas emisi karbon hingga 83 persen jika dibandingkan dengan penggunaan wadah plastik sekali pakai.
Chief Operating Officer Danone, Vikram Agrawal, memaparkan bahwa efisiensi sistem guna ulang tidak hanya berdampak pada reduksi emisi karbon, tetapi juga menghemat 90 persen penggunaan air dalam proses manufaktur.
Selain itu, penggunaan plastik murni (virgin plastic) sebagai bahan baku kemasan baru dapat ditekan hingga 78 persen.
“Kami tidak melihat bisnis dan keberlanjutan sebagai dua hal yang terpisah. Ketika kami tumbuh, kami percaya pada pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Vikram Agrawal dikutip pada Selasa (21/7).
“Praktik yang kami jalankan saat ini di pabrik akan terus diperluas seiring dengan ekspansi bisnis,” imbuhnya.
Dalam skema operasionalnya, galon yang dikembalikan oleh konsumen harus melewati tahapan inspeksi kualitas, pencucian intensif, dan sterilisasi sebelum diisi ulang untuk didistribusikan kembali.
BACA JUGA
- Dishub Denpasar Pelajari Kebijakan Kawasan Rendah Emisi di Kota Tua Jakarta
- Dukung Penerbangan Hijau, Pertamina Usulkan Bauran SAF untuk Rute Jakarta-Bali
- Muhammadiyah Dorong Penyelamatan Lingkungan Jadi Standar Baru Keberhasilan Dakwah
Satu galon rata-rata memiliki siklus pakai sekitar 40 hari dan dapat digunakan berulang hingga 20 kali. Ketika kemasan mencapai batas usia pakainya, galon tersebut akan dihancurkan dan didaur ulang menjadi material bahan baku kemasan baru.
Melalui mekanisme rantai pasok tertutup ini, perusahaan mencatat sebanyak 96 persen dari total kemasan produknya telah dirancang agar dapat didaur ulang.
Efektivitas sistem pengumpulan kembali dari konsumen ini memungkinkan perusahaan menarik sekitar 31.500 ton plastik per tahun untuk diproses ulang ke dalam rantai produksi.
“Model bisnis ini membuktikan bahwa sains operasional dapat mengubah cara jutaan masyarakat Indonesia mengakses air minum tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan secara masif,” katanya.
