Suhu Panas El Nino Percepat Siklus Nyamuk dan Replikasi Virus Demam Berdarah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Fenomena iklim El Nino membawa dampak berlipat ganda bagi ekosistem global. Di saat cuaca ekstrem dan anomali suhu menekan keberlangsungan hidup berbagai populasi satwa liar, situasi ini justru menguntungkan spesies yang adaptif seperti nyamuk, yang berpotensi memicu lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah tropis.
Anomali El Nino yang membawa suhu lebih panas dan curah hujan tidak menentu menciptakan habitat ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan studi kasus di Singapura dan analisis medis internasional, suhu udara yang tinggi terbukti mempercepat siklus reproduksi vektor sekaligus laju replikasi virus di dalam tubuh nyamuk.
“Suhu yang meningkat bisa memperpendek siklus hidup nyamuk pembawa virus serta mempercepat laju perkembangbiakan mereka. Di sisi lain, suhu panas juga dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan virus demam berdarah untuk menggandakan diri dalam tubuh nyamuk,” kata Wakil Direktur Jenderal sekaligus juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) Tseng Shu-hui.
Laporan Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura mencatat bahwa genangan air pasca-hujan lebat pada saluran air tertutup, wadah bekas, dan selokan menjadi sarang utama nyamuk. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino 2026 yang membawa cuaca panas bertepatan dengan periode puncak penularan demam berdarah.
BACA JUGA
- Bahlil Siap Kaji Wacana Presiden untuk Integrasikan Badan Geologi dan BMKG
- Waspada Sebaran Gas Beracun SO2 Anak Krakatau, Badan Geologi Terbitkan Panduan Mitigasi Warga
- Erupsi Magmatik Anak Krakatau Lepaskan Gas SO2 Masif, Begini Dampak Aerosol Sulfat Bagi Suhu Bumi
Di balik melonjaknya populasi serangga pembawa penyakit, El Nino justru menjadi ancaman fatal bagi kelangsungan hidup serangga liar dan satwa lainnya. Perubahan iklim mendadak mengganggu ketersediaan sumber makanan alami serta merusak siklus hidup flora dan fauna yang tidak terbiasa hidup berdampingan dengan aktivitas manusia.
Associate Professor dari Asian School of the Environment, Eleanor Slade, memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dapat memicu kepunahan masal pada kelompok serangga tertentu.
Terganggunya populasi serangga dipastikan bakal memicu efek domino destruktif terhadap kelelawar, burung, mamalia kecil, hingga rantai makanan ekosistem yang lebih luas.
“Akan selalu ada spesies yang bertahan hidup, dan kelompok satwa baru akan terbentuk, tetapi kelompok seperti apa itu dan meereka berguna bagi kita adalah hal yang berbeda,” kata Slade.
