Erupsi Magmatik Anak Krakatau Lepaskan Gas SO2 Masif, Begini Dampak Aerosol Sulfat Bagi Suhu Bumi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi magmatik bertipe lava fountain (pancuran lava). Karakteristik erupsi tipe ini secara alami melepaskan gas sulfur dioksida SO₂ dalam kuantitas yang sangat masif ke atmosfer.
“Gunung api yang mengalami magmatik melepaskan gas SO₂ dalam jumlah besar. Gas SO₂ tersebar ke wilayah yang luas karena terbawa angin. Jika gas SO₂ mencapai atmosfer tinggi, penyebarannya mengikuti angin di ketinggian tersebut,” ungkap Lana dalam keterangan pers, Senin (7/9).
Lepasan gas SO₂ dalam jumlah besar ke lapisan atmosfer tinggi memiliki dinamika unik terhadap iklim. Mengutip studi ilmiah NASA yang bertajuk Aerosols: Small Particles with Big Climate Effects, gas SO₂ yang bereaksi dengan uap air di atmosfer akan membentuk partikel-partikel mikroskopis berwarna cerah bernama aerosol sulfat. Partikel ini mampu bertahan di udara hingga kurun waktu beberapa bulan bahkan tahun, bergantung pada ketinggian kolom letusan.
Aerosol sulfat bertindak memantulkan sebagian radiasi sinar matahari kembali ke ruang angkasa sebelum mencapai daratan.
“Akibatnya, energi Matahari yang mencapai permukaan Bumi berkurang dan suhu global dapat mengalami pendinginan sementara,” jelas NASA dalam publikasi resminya.
BACA JUGA
- Program SINAR ZONAEBT Cetak 50 Teknisi PLTS Tersertifikasi di Tingkat Desa
- Tindak Tegas Sampah Liar, Pemprov DKI Jakarta Bakal Tertibkan Sektor Hotel, Restoran, dan Kafe
- Dorong Kesiapan Bisnis Berkelanjutan, SustainLife Today Sukses Gelar ISBF 2026
Fenomena pendinginan global sementara akibat aerosol sulfat letusan gunung api ini sebelumnya pernah tercatat secara signifikan saat Gunung Pinatubo meletus pada 1991, yang memangkas suhu rata-rata permukaan bumi sebesar 0,5–0,6°C dan menjadikan tahun 1992–1993 sebagai periode terdingin dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.
Sementara itu, Badan Geologi mencatat bahwa episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung selama 25 jam sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB telah resmi berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, digantikan oleh fase erupsi Strombolian.
“Tiga kali erupsi strombolian [ledakan ringan berkala] terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir. Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,” ungkap Lana dalam keterangan resmi, Senin (7/9).
Meskipun demikian, Badan Geologi menegaskan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tinggi dan berpotensi mengalami erupsi susulan.
“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar yang disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” tambahnya.
