Lepaskan Ratusan Juta Ton Emisi Karbon, Walhi Pertanyakan Realisasi Target FOLU Net Sink 2030
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026 diperkirakan telah melepaskan puluhan hingga ratusan juta ton emisi karbon ke atmosfer. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menaksir emisi karhutla mencapai 31 juta ton $\text{CO}_2$ sejak Januari hingga awal September—setara emisi GRK tahunan negara Kuba. Sementara itu, Copernicus Atmospheric Monitoring Service milik Uni Eropa mengestimasi emisi mencapai 65,18 megaton atau setara 239 juta ton CO2, sejajar dengan emisi tahunan bahan bakar fosil Kazakhstan.
Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi, Patria Rizky Ananda, mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan target pemerintah terkait pencapaian Indonesia’s Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.
“Bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink jika pada saat yang sama puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla?” ujar Patria dalam keterangan resmi, Selasa (8/9).
Patria menggarisbawahi bahwa tolok ukur FOLU Net Sink 2030 tidak hanya ditentukan oleh klaim luasan absorbansi karbon, melainkan juga keberhasilan mempertahankan stok karbon agar tidak terlepas akibat bencana ekologis. Ketidakmampuan mencegah karhutla dinilai berisiko menggerus kredibilitas komitmen iklim Indonesia di tingkat global.
Sementara itu, Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menilai skema FOLU Net Sink 2030 memiliki celah mendasar sejak tahap perencanaannya.
“Logika FOLU yang masih memberikan kuota besar bagi perubahan hutan menjadi konsesi bisnis, berkolerasi dengan karhutla yang terus terjadi,” ujar Uli.
BACA JUGA
- Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Ketinggian 15 Ribu Feet, Kualitas Udara Banten–Jakarta Terancam
- Dampak Erupsi Anak Krakatau, BRIN Imbau Warga Tak Konsumsi Biota Laut yang Mati Mendadak
- Dorong Kesiapan Bisnis Berkelanjutan, SustainLife Today Sukses Gelar ISBF 2026
Uli menyoroti tren timbulan emisi berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang terus naik dari 53,5 juta ton CO2 pada 2024 menjadi 56,2 juta ton CO2 pada 2025. Menurut Walhi, penanganan karhutla harus ditempatkan sebagai pilar utama kebijakan iklim nasional, di mana perlindungan dan restorasi ekosistem gambut dilakukan secara preventif, bukan sekadar responsif saat api membesar.
Walhi menguraikan beberapa rekomendasi prioritas kepada pemerintah, antara lain:
- Melakukan pencegahan karhutla berbasis risiko pada ekosistem gambut dan area rawan terbakar berulang.
- Memperketat pengawasan dan penegakan hukum terhadap korporasi yang terbukti membiarkan atau memicu karhutla di wilayah konsesinya.
- Mengintegrasikan kebijakan iklim dengan penataan ruang dan tata kelola perizinan lahan.
- Memperkuat peran serta masyarakat adat dan komunitas lokal dalam perlindungan ekosistem.
“Karhutla 2026 menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut belum selesai. Selama hutan dan gambut masih terus terbakar, jutaan ton emisi masih dilepaskan, dan sumber emisi tersebut tidak dihentikan, maka komitmen FOLU Net Sink 2030 patut dipertanyakan,” tegas Uli.
