Hujan Abu Anak Krakatau Ancam Pertanian, Pakar IPB Ingatkan Risiko Gagal Panen
Jakarta, sustainlifetoday.com – Sebaran abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi mengganggu aktivitas fotosintesis hingga memicu risiko gagal panen pada sektor pertanian. Kondisi ini terjadi akibat tertutupnya stomata pada daun dan batang tanaman oleh lapisan debu vulkanik.
Pakar ilmu tanah IPB University, Iskandar, menjelaskan bahwa durasi keterpaparan tanaman terhadap abu vulkanik menjadi faktor penentu besarnya dampak kerusakan pertumbuhan tanaman di area terdampak.
“Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” ujar Iskandar, dilansir dari laman resmi IPB University, Selasa (8/9).
Iskandar menggarisbawahi bahwa bahaya abu vulkanik berbanding lurus dengan lamanya paparan serta jarak lokasi lahan pertanian dari pusat letusan.
“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” ucapnya.
BACA JUGA
- Resmi Gunakan Biodiesel B50, KAI Pangkas 9.000 Ton Emisi Karbon dalam 55 Hari
- Waspada Sebaran Gas Beracun SO2 Anak Krakatau, Badan Geologi Terbitkan Panduan Mitigasi Warga
- Perkuat Pasar Karbon, Kemenhut Fokus Bangun Kapasitas SDM dan Kerangka Kompetensi
Selain durasi, perbedaan ukuran material dan suhu abu juga memengaruhi tingkat keparahan. Pada kawasan yang berada dekat dengan pusat erupsi, abu vulkanik yang jatuh masih bersuhu tinggi sehingga memicu kerusakan fisik secara langsung.
“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” tutur Iskandar.
Guna meminimalisasi kerugian petani, Iskandar membagikan panduan teknis pengelolaan lahan pascahujan abu. Apabila endapan abu tergolong tipis, lahan dianjurkan untuk segera diolah pascahujan. Namun jika ketebalan abu cukup signifikan, ia menyarankan agar material vulkanik tersebut tidak dibuang, melainkan dicampurkan langsung dengan tanah yang dibarengi dengan pengujian derajat keasaman (pH) dan Daya Hantar Listrik (DHL).
Di balik potensi kerusakannya, endapan abu vulkanik memiliki sisi positif sebagai bahan pembenah tanah alami bagi lahan yang terdegradasi. Paparan air hujan pada endapan abu akan melepaskan beragam hara mineral penting bagi tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K).
“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” ujar Iskandar.
