Waspada Sebaran Gas Beracun SO2 Anak Krakatau, Badan Geologi Terbitkan Panduan Mitigasi Warga
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, merespons ramainya peredaran informasi di media sosial terkait penyebaran gas sulfur dioksida atau belerang dioksida (SO₂) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Angin yang bertiup ke arah timur laut dikabarkan telah membawa gas beracun tersebut mendekati kawasan permukiman padat penduduk di wilayah Jabodetabek dan Banten.
Lana memaparkan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini tengah mengalami erupsi magmatik bertipe pancuran lava (lava fountain), di mana karakteristik erupsi ini memang secara alami melepaskan gas SO₂ dalam kuantitas yang sangat masif.
“Gunung api yang mengalami magmatik memang melepaskan gas SO₂ dalam jumlah besar. Gas SO₂ tersebar ke wilayah yang luas karena terbawa angin. Jika gas SO₂ mencapai atmosfer tinggi, penyebarannya mengikuti angin di ketinggian tersebut,” ungkap Lana dalam keterangan pers, Senin (7/9).
Menurut Lana, terdapat perbedaan profil letusan yang signifikan antara Gunung Anak Krakatau saat ini dengan erupsi Gunung Ruang pada 2024. Saat letusan Gunung Ruang, gas membumbung hingga mencapai ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut. Sebaliknya, karakter erupsi Gunung Anak Krakatau membuat keberadaan gas terkonsentrasi pada lapisan atmosfer yang lebih rendah, sehingga memperbesar kemungkinan paparan gas tersebut tercium langsung di daratan.
“Kondisi inilah yang terjadi pada Anak Krakatau. Kalau gas ke atmosfer bawah, maka SO₂ akan tercium,” ungkap Lana.
BACA JUGA
- Program SINAR ZONAEBT Cetak 50 Teknisi PLTS Tersertifikasi di Tingkat Desa
- Tindak Tegas Sampah Liar, Pemprov DKI Jakarta Bakal Tertibkan Sektor Hotel, Restoran, dan Kafe
- Sambut Usia Ke-28, Bank Mandiri Gelar Donor Darah Serentak di 12 Region
Secara karakteristik, gas SO₂ tidak berwarna namun memiliki bau tajam menyengat menyerupai korek api kayu yang baru dinyalakan atau belerang terbakar. Gas ini tergolong beracun dan sangat berbahaya bagi sistem pernapasan karena dapat bereaksi dengan kelembapan saluran napas membentuk asam sulfat. Paparan di atas ambang batas memicu iritasi mata, tenggorokan gatal, hingga sesak napas, serta berisiko fatal bagi penderita asma jika terhirup berulang. Meski demikian, otoritas meminta warga untuk tidak khawatir berlebihan.
“Masyarakat tidak perlu panik selama tidak mencium bau gas sulfur secara langsung di permukiman mereka. Namun jika bau gas tercium ada beberapa yang perlu dilakukan,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan mandiri apabila bau belerang mulai terdeteksi di lingkungan tempat tinggal, Badan Geologi menginstruksikan masyarakat untuk segera memprioritaskan penggunaan masker respirator yang dilengkapi filter khusus gas asam (seperti masker standar 3M). Jika tidak tersedia, warga dapat menutupi hidung dan mulut menggunakan kain basah agar gas sulfur terserap oleh lapisan air. Masyarakat juga diimbau untuk segera berlindung di dalam rumah guna menghindari paparan luar ruangan. Lebih lanjut, warga sangat dilarang mengonsumsi air hujan dari kawasan terdampak, mengingat reaksi uap air dengan gas sulfur dapat memicu fenomena hujan asam.
“Saat ini, pemantauan terhadap aktivitas vulkanik serta emisi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi [PVMBG]-Badan Geologi yang bekerja sama dengan MAGMA Indonesia.“
“Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti perkembangan situasi melalui saluran informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” ujar Lana.
