Kriosfer dalam Bahaya, PBB Desak Percepatan Transisi Energi Demi Tahan Suhu Bumi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Melampaui ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius akan memicu dampak destruktif yang tidak dapat dipulihkan (irreversible) terhadap gletser, es laut, serta seluruh lapisan es (kriosfer) Bumi. Peringatan keras tersebut tertuang dalam dua laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendesak implementasi tindakan iklim darurat secara global guna mencegah bencana berantai meluas.
Berdasarkan laporan tersebut, kenaikan suhu melampaui target Perjanjian Paris 2015 akan mempercepat pencairan tanah beku (permafrost), melenyapkan gletser pegunungan, serta memicu kenaikan permukaan air laut secara drastis. Dampak berantai ini mengancam ketahanan pangan, memicu banjir pesisir, dan mengancam ketersediaan air bersih global. Degradasi kriosfer bahkan telah terlihat nyata saat ini, salah satunya ditunjukkan oleh hilangnya 20 persen massa gletser di Swiss.
PBB memperingatkan bahwa tingkat pemanasan global saat ini, yang telah menyentuh 1,37 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri sebenarnya sudah berada pada level yang tidak aman bagi kawasan Arktik, Antartika, maupun lautan kutub. Berdasarkan proyeksi jaringan pemantau Eropa, Copernicus, ambang batas 1,5 derajat Celsius diperkirakan bakal terlampaui pada sekitar tahun 2030.
Laporan PBB menegaskan bahaya laten dari keterlambatan menahan laju kenaikan suhu.
“Meskipun berhasil mengembalikan suhu bumi ke 1,5 derajat C dapat memperlambat pencairan es, suhu yang benar-benar aman untuk lapisan es Bumi kini diperkirakan harus mendekati 1 derajat C atau bahkan di bawahnya dalam beberapa abad mendatang,” tambah laporan tersebut.
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Ahli gletser sekaligus penulis utama laporan ‘Overshoot and the Cryosphere’, James Kirkham, menggarisbawahi bahwa setiap kenaikan suhu sekecil apa pun akan melipatgandakan risiko ekologis yang harus ditanggung planet ini.
“Tidak ada konsekuensi baik jika kita melebihi angka 1,5 derajat C,” kata Kirkham.
Ia menegaskan bahwa meskipun suhu global nantinya berhasil diturunkan kembali, proses pemulihan alam akan memakan waktu hingga ribuan tahun dan banyak ekosistem es yang tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
“Untuk menahan dampak buruk dan kerusakan akibat hilangnya es di wilayah kutub dan pegunungan dunia, pelampauan batas suhu harus ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.
“Setiap pecahan derajat tambahan dan megenai setiap tahun yang dihabiskan dalam kondisi melampaui batas suhu berarti dampak yang akan dirasakan bakal semakin menghancurkan,” tambahnya.
Kondisi tersebut dipertegas dalam laporan kedua bertajuk ‘State of the Cryosphere 2026: The Cost of Overshoot’. Jika tren pemanasan bumi menembus 2,8 derajat Celsius hingga abad berikutnya, permukaan air laut diperkirakan dapat melonjak hingga 5 sentimeter per tahun pada 2150, jauh melampaui laju saat ini yang sebesar 0,45 sentimeter per tahun. Selain itu, pencairan permafrost berisiko melepaskan tutupan emisi karbon terperangkap dalam jumlah masif yang setara dengan akumulasi emisi tahunan Amerika Serikat.
Peneliti iklim University of New South Wales, Matthew England, turut mengingatkan bahwa meskipun suhu bumi berhasil ditekan hingga di bawah 1,5 atau 1 derajat Celsius, pemulihan parsial gletser dan es laut tetap membutuhkan rentang waktu dari puluhan hingga ratusan tahun.
BACA JUGA
- Pertamina NRE Jajaki Kelola Fasilitas Biodiesel 600 Ribu Ton dan Bioetanol 2G
- Luas Karhutla Papua Selatan Menyusut 56 Persen, BNPB Terus Pacu Modifikasi Cuaca
- KPK Temukan Risiko Proyek Energi, Minta Perpres PLTS 100 GWp Segera Disahkan
Studi tersebut memproyeksikan bahwa bumi saat ini berada pada jalur pemanasan 2,6 derajat Celsius pada tahun 2100, bahkan jika seluruh komitmen iklim negara-negara dunia saat ini dipenuhi. Oleh karena itu, skenario overshoot tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan komitmen dekarbonisasi.
“Melampaui batas suhu 1,5 derajat C untuk sementara waktu bukan berarti target Perjanjian Paris menjadi tidak relevan, melainkan justru membuatnya semakin mendesak untuk dicapai,” tegas Kirkham.
Guna mencegah kerusakan permanen pada kriosfer, PBB mendesak perlunya keberanian politik untuk menghentikan ketergantungan pada energi fosil secara signifikan pada dekade ini.
“Mengembalikan suhu bumi ke 1,5 derajat C atau di bawahnya pada tahun 2100 masih sangat memungkinkan jika ada ambisi politik dan rasa urgensi yang kuat, khususnya dengan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil demi mencapai target emisi nol bersih pada pertengahan abad ini,” ujarnya.
“Tindakan cepat dan tegas seperti itu dapat mencegah, bahkan mengembalikan sebagian kerusakan lapisan es yang telah terjadi,” katanya lagi.
