Cegah Karhutla di Sumsel, Pemerintah Estafetkan Air 23 Km Basahi Gambut OKI
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengintervensi tata air ekosistem gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, guna menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah mengalirkan pasokan air dari Sungai Lumpur menggunakan sistem pemompaan masif berkapasitas total empat juta liter per jam untuk membasahi kembali (rewetting) lahan gambut yang mengering.
Operasi teknis ini mengandalkan empat unit pompa berkapasitas masing-masing satu juta liter per jam yang dioperasikan secara estafet selama 20 jam sehari. Air didistribusikan sejauh 23 kilometer menjangkau area gambut melalui jaringan kanal utama dan parit-parit kecil. Langkah ini selain menjaga kelembapan bentang gambut, juga berfungsi sebagai cadangan pasokan air siap pakai apabila timbul titik api (hotspot) di kawasan rawan tersebut.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Mohammad Jumhur Hidayat, mengaitkan penguatan infrastruktur hidrologi gambut ini dengan strategi pencegahan dini berbasis teknologi dan gotong royong.
“Semangat gotong royong ini harus terus diperkuat, tidak hanya dalam pemadaman, tetapi juga melalui upaya pencegahan, salah satunya dengan mengembangkan inovasi pembasahan kembali lahan gambut melalui pemanfaatan aliran air sungai, pompa, dan sekat kanal,” kata Jumhur seperti dikutip dari pernyataan KLH, Senin (2/11/2026).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Saat meninjau infrastruktur di Distrik Simpang Tiga, OKI, Jumhur bersama Tim Water Management PT Bumi Mekar Hijau menguji keandalan Pompa Sambunesia karya Sambusir. Inovasi teknologi pemadam ini dirancang dengan tiga fungsi utama, yakni memadamkan api di permukaan, menyemprotkan air menembus lapisan dalam gambut, serta mendistribusikan air secara otomatis melalui sistem sprinkler.
Usai pemantauan infrastruktur, rombongan bertolak ke Desa Penyandingan, Kecamatan Tulung Selapan, untuk berdialog dengan Masyarakat Peduli Api (MPA). Lebih dari 100 anggota MPA dikerahkan dalam operasi pemadaman selama lebih dari 50 hari berturut-turut sejak 5 September hingga 26 Oktober 2026. Di tengah hambatan keterbatasan sumber air, medan ekstrem, cuaca panas, dan struktur lahan gambut, kolaborasi lintas sektor tersebut berhasil mengendalikan karhutla di area seluas kurang lebih 2.000 hektare.
Jumhur menyampaikan apresiasi kepada jajaran gabungan di lapangan, mencakup Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan MPA.
“Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak, mulai dari Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api yang telah bekerja keras dalam penanganan karhutla,” ujarnya.
Sebagai bagian dari perlindungan sosial medis, KLH turut menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi anggota MPA dan warga setempat guna memulihkan kondisi fisik serta menganticipasi dampak pemaparan kabut asap pascaoperasi pemadaman.
BACA JUGA
- Jerat 29 Ribu Hektare Lahan Terbakar, Bareskrim Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla
- Dampak Karhutla, Krisis Kabut Asap Lumpuhkan Sektor Pariwisata Regional Asia Tenggara
- Topang Ketahanan Energi, Pertamina Patra Niaga Integrasikan Diversifikasi Pasokan dan Prinsip Keberlanjutan
Di sisi kebijakan penataan ruang dan infrastruktur, Kepala BPGMN Satyawan Pudyatmoko menegaskan penguatan koordinasi lintas tingkatan pemerintah guna memastikan perlindungan ekosistem gambut berjalan terarah dan berkelanjutan. Pemerintah bakal memetakan wilayah prioritas serta merehabilitasi fasilitas infrastruktur pembasahan seperti sekat kanal dan sumur bor yang rusak.
“Kami terus memperkuat koordinasi dan menyelaraskan langkah antara pemerintah pusat dan daerah agar program pencegahan serta penanggulangan karhutla dapat dilaksanakan secara konkret dan terarah,” kata Satyawan.
Kendati sebagian wilayah Sumatera Selatan mulai diguyur hujan, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengingatkan seluruh pihak agar tidak menurunkan tingkat kesiapsiagaan. Potensi dinamika cuaca kering masih menjadi ancaman bagi stabilitas lahan gambut di wilayah tersebut.
“Kita tidak boleh lengah meskipun sekarang sudah mulai turun hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, masih ada potensi cuaca kembali kering sehingga penanganan karhutla melalui berbagai upaya tetap harus dilanjutkan,” kata Herman.
Melalui integrasi pembasahan gambut masif, operasi modifikasi cuaca (OMC), dan pemantauan berkala, pemerintah memperkuat kesiapsiagaan di wilayah rawan demi meminimalkan risiko keberulangan karhutla serta merawat ekosistem gambut nasional.
