Luas Karhutla Papua Selatan Menyusut 56 Persen, BNPB Terus Pacu Modifikasi Cuaca
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan menunjukkan tren penurunan signifikan berkat intervensi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pemadaman darat secara intensif. Per 1 November 2026, sisa area lahan terbakar tercatat menyusut 56 persen menjadi 253 hektare dari kondisi sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 700 hektare.
Meskipun luas area terbakar berhasil ditekan, Pemerintah Provinsi Papua Selatan telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla guna memperkuat koordinasi penanganan di lapangan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa sinergi pemadaman antara pemerintah daerah dan BNPB terus dilakukan di seluruh wilayah terdampak.
“Papua Selatan, di mana kemarin itu sampai mencapai 700 hektare lebih, saat ini tinggal 253 hektare atau turun 56 persen,” kata Berton dalam konferensi pers secara daring, Senin (2/11/2026).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Guna memicu pembentukan awan hujan, BNPB mengaktifkan posko OMC di Lanud JA Dimara, Kabupaten Merauke, sejak 22 Oktober 2026. Hingga hari ke-11 operasional, tim gabungan telah melaksanakan 17 sorti penerbangan dengan menyemai total 17.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Pada 2 November 2026, sebanyak 2.000 kilogram garam kembali disemai melalui dua sorti penerbangan di atas langit Kabupaten Merauke dan Boven Digoel.
Intervensi teknologi cuaca ini berhasil menekan kemunculan titik panas (hotspot) di Papua Selatan secara drastis, dari 901 titik per 31 Oktober 2026 menjadi 156 titik pada 1 November 2026. BNPB memastikan stok bahan semai garam untuk kelanjutan operasi masih dalam kondisi aman.
BACA JUGA
- Sikapi Krisis Ekologis dan Sosial, 560 Pemuda Lintas Provinsi Deklarasikan Tuntutan untuk Presiden
- Ribuan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Habitat Satwa, Geopix Gugat Komitmen RSPO
- Tindak Tegas Pelanggaran Karhutla, Bareskrim Polri Rekomendasikan Pencabutan Izin 23 Korporasi
Kendati titik api berkurang, pemadaman total menghadapi tantangan hidrometeorologi yang kompleks. Tingginya intensitas El Niño memicu kekeringan ekstrem dan membatasi pertumbuhan awan hujan, yang umumnya baru tumbuh pada sore hingga malam hari. Selain itu, sebaran kabut asap lintas wilayah antara Papua dan Papua Nugini masih terpantau menyelimuti kawasan tersebut.
Ancaman krisis ekologis ini makin krusial mengingat luasnya bentang gambut di Papua Selatan yang mencapai 1,12 juta hektare. Struktur gambut yang mengering sangat rentan memicu kebakaran bawah permukaan (subsurface fire) yang tergolong sulit ditangani.
“Papua Selatan memiliki lahan gambut seluas 1,12 juta hektare, dan yang terluas ada di Kabupaten Mappi (491,4 ribu hektare), Kabupaten Asmat (372,6 hektare), dengan kekeringan ekstrem mencapai 70,7 persen,” kata Berton.
