BRIN Dorong Industri dan UMKM Terapkan Produksi Bersih untuk Kurangi Emisi
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Sektor industri, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi kunci dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia. Komitmen ini ditegaskan oleh Lead of Climate Mitigation and Adaptation for Sustainability Research Group BRIN, Widiatmini Sih Winanti, dalam Roundtable Discussion Achieving Corporate Climate Ambition in Indonesia: Understanding SBTi Fundamentals and Sectoral Pathways di Gedung BJ Habibie, Rabu (15/10).
Menurut Widiatmini, sekitar 90 persen pelaku usaha di Indonesia termasuk dalam kategori UMKM. Kelompok ini, selain menjadi tulang punggung ekonomi nasional, juga berkontribusi besar terhadap penggunaan energi dan produksi limbah.
Melalui berbagai program riset dan pendampingan, BRIN berupaya memperkuat penerapan industri berkelanjutan dengan mendorong efisiensi energi dan sistem produksi bersih.
“Kami telah bekerja sama dengan pabrik garmen, produsen makanan, hingga kantor pelayanan publik seperti puskesmas, sekolah, dan restoran untuk menurunkan emisi serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi,” ujar Widiatmini.
Penerapan teknologi bersih dinilai memberikan manfaat ganda, yaitu menghemat air dan bahan baku, menekan biaya operasional, sekaligus mengurangi volume limbah. BRIN juga membantu pelaku usaha memperoleh akses terhadap alat perencanaan produksi bersih dan platform teknologi yang relevan.
Baca Juga:
- PELANUSA Bawa Semangat Ramah Lingkungan ke Panggung IN2MF 2025
- Menteri LH: Radiasi Cikande Jadi Alarm bagi Tata Kelola Lingkungan Indonesia
- Menag Nasaruddin Umar: Menjaga Lingkungan Adalah Zikir Sosial
Langkah ini sejalan dengan target pemerintah dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC), yaitu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030.
Widiatmini menegaskan, strategi jangka panjang menuju net zero emission pada 2060 menempatkan prinsip adaptasi dan ketahanan iklim sebagai bagian dari pembangunan nasional.
“Komitmen ini diperkuat dengan strategi jangka panjang menuju net zero emission pada 2060 atau lebih cepat,” jelasnya.
Landasan kebijakan tersebut berpijak pada Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang menjadi acuan global dalam menurunkan emisi, serta telah diadopsi dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Permen LHK Nomor 21 Tahun 2022.
Sebagai lembaga riset nasional, BRIN turut mengakselerasi riset-riset rendah karbon, seperti biodiesel, panel surya, energi angin, biogas, dan waste-to-energy (WtE). Konsep ekonomi sirkular juga terus didorong, termasuk pemanfaatan biomassa dan sistem kompos sebagai sumber energi alternatif.
“BRIN mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular, seperti pemanfaatan biomassa dan sistem kompos sebagai sumber energi alternatif,” kata Widiatmini.
Melalui pengembangan bioreaktor dari limbah cair pabrik kelapa sawit (POME), tahu, dan tapioka, BRIN berhasil mengembangkan riset biogas dan bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Riset mengenai Refuse Derived Fuel (RDF) juga terus dilakukan untuk mengubah limbah padat menjadi bahan bakar bagi industri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.
