Proyek Waste to Energy Danantara Disebut Jadi yang Terbesar di Dunia
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Transformasi pengelolaan sampah menjadi energi kini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pandu Patria Sjahrir, menyebut proyek waste to energy (WTE) yang dijalankan Danantara merupakan yang terbesar di dunia.
Pandu menegaskan, inisiatif ini tidak semata berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menjadi langkah nyata untuk mengatasi persoalan lingkungan yang kian mendesak.
“Jangan lupa ini mungkin waste to energy, yang kita lakukan ini yang terbesar di dunia. Tidak ada satu negara melakukan investasi sebesar ini di waste to energy. Per hari ini ini terbesar di dunia. Kenapa? Karena ini solve satu isu utama. Ini bukan hanya create return, tapi isu utamanya adalah masalah lingkungan hidup yang sudah krisis,” beber Pandu dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di JS Luwansa, Jakarta, Kamis (16/10).
Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa kebutuhan investasi proyek WTE di 33 kota Indonesia mencapai sekitar Rp 91 triliun. Setiap fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dapat memerlukan biaya investasi antara Rp 2–3 triliun, tergantung kapasitas dan lokasi proyek.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan pro-lingkungan untuk mempercepat eksekusi proyek WTE. Pandu menjelaskan, insentif yang diberikan mencakup penyediaan lahan gratis, penghapusan tipping fee, hingga penetapan harga listrik sebesar 20 sen per kilowatt hour.
Baca Juga:
- BPS Siapkan KBLI Khusus Perdagangan Karbon untuk Dorong Ekonomi Hijau
- ESDM Tegaskan Kewajiban Dana Jaminan Reklamasi untuk Tambang Berkelanjutan
- Menag Nasaruddin Umar: Menjaga Lingkungan Adalah Zikir Sosial
“Jadi yang kita ubah sekarang kita akan menyiapkan lahan secara gratis. Kita juga akan melakukan take and pay. Dan di sini 20 sen itu satu harganya menurut kami cukup atraktif,” tuturnya.
Menurut Pandu, potensi energi terbarukan dari pengolahan sampah ini telah menarik minat investor global. Dalam dua minggu terakhir, sebanyak 120 perusahaan dan konsorsium menyatakan ketertarikan untuk mengikuti bidding pada 10 proyek pertama WTE.
“Kita sudah membuka selama 2 minggu terakhir. Siapa yang ingin masuk? Ada 120 perusahaan dan konsorsium yang ingin bidding hanya untuk 10 proyek pertama. Jadi ini masif,” sebut Pandu.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan pihak swasta diharapkan tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat aspek teknologi dan keberlanjutan lingkungan dalam implementasi proyek.
“Bahwa memang secara commercial ini atraktif. Tapi kami lempar balik kepada konsorsium. We give you good return. Return-nya bagus. Tapi tolong dong solve beberapa hal. Satu, secara teknologi Anda yang paling kompetitif. Jadi penting nih secara teknologi. Kedua, secara lingkungan. Ini sama pentingnya Anda harus bisa solve,” tutupnya.
