Tiongkok Krisis Air Akibat Terlalu Gencar Lakukan Penghijauan, Kok Bisa?
Jakarta, sustainlifetoday.com — Ambisi besar dalam pemulihan lingkungan kerap membawa konsekuensi yang tidak selalu terduga. Hal inilah yang kini dihadapi Tiongkok, negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai raksasa infrastruktur dan energi berskala masif.
Sejak 1978, pemerintah Tiongkok menjalankan proyek ambisius “Tembok Hijau Besar” atau Three-North Shelterbelt Program, sebuah inisiatif penghijauan raksasa yang bertujuan menahan badai pasir dan erosi tanah di wilayah utara. Proyek ini tidak sekadar menanam pohon, melainkan mentransformasi lanskap daratan secara besar-besaran, dan dinyatakan rampung pada tahun lalu.
Secara visual, hasilnya tampak mengesankan. Data Reuters menunjukkan penanaman pohon di lahan seluas 116.000 mil persegi atau setara dengan luas negara Aljazair, berhasil meningkatkan tutupan hutan nasional secara signifikan, dari sekitar 10 persen pada 1949 menjadi hampir 25 persen pada 2024. Bahkan, peningkatan vegetasi di Tiongkok disebut menyumbang sekitar 25 persen dari total pertambahan luas daun global pada periode 2000–2017.
Namun di balik keberhasilan tersebut, muncul persoalan ekologis baru yang justru mengancam keberlanjutan sumber daya air tawar di sebagian besar wilayah negara itu.
Hutan Menyerap Jatah Air
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future pada 4 Oktober mengungkap bahwa penghijauan masif di Tiongkok telah memicu ketidakseimbangan hidrologi. Studi yang dilakukan peneliti dari Tianjin University, China Agricultural University, dan Utrecht University menemukan bahwa selama periode 2001–2020, peningkatan vegetasi justru menurunkan ketersediaan air di wilayah monsun timur dan kawasan kering barat laut.

Dua wilayah tersebut mencakup sekitar 74 persen dari total daratan Tiongkok. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya evapotranspirasi, yakni gabungan penguapan air dari permukaan tanah dan pelepasan uap air oleh tanaman. Program seperti Grain for Green yang mendorong konversi lahan pertanian menjadi hutan, serta Natural Forest Protection Program yang membatasi penebangan, secara kolektif meningkatkan pelepasan uap air ke atmosfer.
Arie Staal, asisten profesor ketahanan ekosistem di Utrecht University yang dikutip Live Science, menjelaskan mekanisme tersebut.
“Hutan memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam meningkatkan evapotranspirasi karena akar pohon yang dalam mampu menyedot air tanah bahkan di musim kering sekalipun,” ujar Arie Staal.
Menurut penelitian tersebut, peningkatan penguapan jauh melampaui kenaikan curah hujan lokal. Akibatnya, lebih banyak air yang “hilang” ke atmosfer dibandingkan yang kembali mengisi tanah dan sumber air permukaan.
Air Bermigrasi, Risiko Tak Merata
Dampak lanjutan dari peningkatan uap air ini ternyata tidak merata secara geografis. Model pelacakan kelembapan menunjukkan bahwa angin dapat membawa uap air hasil transpirasi hingga sejauh 7.000 kilometer. Uap air dari wilayah timur dan barat laut Tiongkok justru berpindah dan turun sebagai hujan di Dataran Tinggi Tibet.
Baca Juga:
- Aktivitas Vulkanik Meningkat, Wisata Gunung Kerinci Dihentikan Sementara
- Minat AS atas Greenland Kembali Mencuat, Iklim dan Mineral Jadi Sorotan
- Prabowo Umumkan Indonesia Swasembada Pangan, Arahkan Kemandirian Pangan Berkelanjutan
Sementara kawasan barat laut mengalami defisit air yang signifikan, Dataran Tinggi Tibet justru menerima surplus air yang relatif tidak dibutuhkan oleh populasi manusia dalam jumlah besar.
Kondisi ini memperparah ketimpangan distribusi air yang sudah lama terjadi. Wilayah utara Tiongkok, yang dihuni sekitar 46 persen penduduk dan menjadi pusat lebih dari separuh lahan pertanian, hanya memiliki sekitar 20 persen dari total cadangan air nasional.
Laporan Popular Mechanics juga mencatat bahwa pengalihan fungsi lahan, seperti perubahan padang rumput menjadi hutan, memang meningkatkan penguapan namun menggerus cadangan air lokal.
Di tengah komitmen Tiongkok untuk terus melanjutkan penghijauan demi menahan perluasan gurun, para peneliti mengingatkan pentingnya manajemen sumber daya air yang lebih terintegrasi. Tanpa perencanaan ekologis yang matang, ambisi menghijaukan bumi berisiko memicu krisis air baru bagi manusia di masa depan.
