Deforestasi Primer Global Turun, Indonesia Justru Naik 14,2 Persen
Jakarta, sustainlifetoday.com – Data terbaru dari GLAD Lab University of Maryland dan World Resources Institute (WRI) menunjukkan total kehilangan hutan primer tropis dunia pada 2025 turun 36,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tren berbeda terjadi di Indonesia yang justru mengalami kenaikan kehilangan hutan primer tropis sebesar 14,2 persen.
Secara global, dunia kehilangan sekitar 4,28 juta hektare hutan hujan primer tropis sepanjang 2025, setara luas negara Denmark. Meski lebih rendah dibandingkan kehilangan 6,73 juta hektare pada 2024, angka tersebut masih 46 persen lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu.
Laju kehilangan hutan primer global juga disebut masih sangat tinggi, setara dengan hilangnya 11 lapangan sepak bola setiap menit.
Co-Director Global Forest Watch WRI, Elizabeth Goldman, mengatakan penurunan kehilangan hutan global menjadi sinyal positif yang menunjukkan dampak nyata dari kebijakan pemerintah yang lebih tegas.
Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan tersebut terjadi setelah periode kebakaran ekstrem pada tahun sebelumnya. Dengan potensi kemunculan El Niño pada 2026, risiko kebakaran hutan dinilai masih tinggi.
“Kebakaran dan perubahan iklim saling memperburuk satu sama lain, dan dengan El Niño yang diperkirakan terjadi pada 2026, investasi dalam pencegahan dan respons akan sangat krusial seiring kondisi kebakaran ekstrem yang makin menjadi norma,” katanya dalam paparan perilisan data, Rabu (29/4).
Meski menunjukkan perbaikan, tingkat kehilangan hutan global saat ini masih jauh dari target penghentian dan pemulihan hutan pada 2030. Angka kehilangan hutan disebut masih sekitar 70 persen lebih tinggi dari target yang dibutuhkan.
Sebagian besar penurunan global didorong oleh Brasil yang berhasil memangkas kehilangan hutan primer nonkebakaran sebesar 41 persen dibandingkan 2024. Penurunan tersebut terjadi seiring penguatan kebijakan lingkungan di bawah Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, termasuk pengaktifan kembali program antideforestasi federal PPCDAm serta peningkatan sanksi terhadap kejahatan lingkungan.
BACA JUGA
- WALHI: Ganti Menteri Tak Cukup, Arah Kebijakan Lingkungan Harus Dirombak
- DPR Harap Menteri LH Baru Perkuat Sinergi dan Tata Kelola Lingkungan
- BRIN Kenalkan Petasol, BBM dari Limbah Plastik untuk Energi dan Lingkungan
Sementara di Indonesia, Managing Director World Resources Institute Indonesia, Arief Wijaya, menilai kehilangan hutan dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya relatif terkendali berkat kebijakan pembatasan pembukaan hutan baru dan peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan hutan.
“Itu menunjukkan komitmen kuat terhadap penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan. Namun tekanan ekonomi yang meningkat bisa menguji kemajuan tersebut—dan apakah kemajuan itu bisa bertahan akan bergantung pada seberapa baik pertumbuhan diseimbangkan dengan iklim dan alam,” katanya.
Meski demikian, data menunjukkan total kehilangan hutan primer tropis Indonesia mencapai 295.595 hektare pada 2025, meningkat dibandingkan 258.812 hektare pada 2024.
Sebagian besar kehilangan hutan dipicu oleh ekspansi pertanian dan aktivitas pertambangan. Pembukaan lahan pertanian tercatat menyebabkan hilangnya 127.079 hektare hutan primer tropis, sementara aktivitas logging menyumbang kehilangan seluas 89.588 hektare.
Di sisi lain, aktivitas pertambangan menyebabkan kehilangan hutan seluas 15.220 hektare. Kebakaran lahan juga meningkat, dengan total kehilangan hutan primer tropis mencapai 13.149 hektare, lebih tinggi dibandingkan 9.011 hektare pada 2024.
