Masih Jauh dari Target, Greenpeace Pertanyakan Komitmen Iklim Negara G20
Jakarta, sustainlifetoday.com — Komitmen negara-negara G20 dalam menahan laju krisis iklim dinilai jauh dari memadai. Analisis terbaru Greenpeace terhadap dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) menunjukkan bahwa target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) kelompok G20 hanya berada di kisaran 23–29 persen pada 2035, dibandingkan dengan level emisi tahun 2019.
Pakar politik iklim Greenpeace International, Tracy Carty, menilai lemahnya komitmen negara-negara G20 sangat disayangkan. Padahal, G20 menyumbang 80 persen emisi GRK global, sehingga perannya sangat menentukan perjalanan dunia menuju ambang suhu 1,5°C.
Menurut Tracy, negara-negara G20 bukan hanya memiliki tanggung jawab historis, tetapi juga kapasitas ekonomi dan teknologi untuk memimpin aksi iklim global.
“Pilihan-pilihan mereka bisa mencapai atau mematahkan target 1,5?,” ujar Tracy dikutip pada, Rabu (19/11).
Ia menegaskan bahwa negara berpenghasilan tinggi di G20 seharusnya menjadi garda terdepan dalam meningkatkan ambisi iklim. Untuk menjaga suhu bumi tetap aman, negara-negara maju tersebut idealnya berkomitmen pada pengurangan emisi minimal 60 persen pada 2035.
“Tapi secara akumulatif, negara-negara maju di G20 hanya akan memangkas emisi sebesar 51-57 persen pada 2035. Ketika mereka sebenarnya diharapkan untuk memimpin, ini jelas sebuah kegagalan,” tutur Tracy.
Emisi Indonesia Justru Meningkat
Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan emisi 9,8–30 persen pada 2035, dibandingkan dengan emisi tahun 2019. Peningkatan ini membuat Indonesia tertinggal dari Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko dalam upaya penurunan emisi di antara negara berkembang G20.
Baca Juga:
- Indonesia Percepat Pengakuan Hutan Adat dan Perluas Akses Pendanaan Inklusif
- BCA Perkuat Konservasi Hulu Air Ngantang Demi Keberlanjutan Lingkungan dan Ekonomi
- Sampah Putung Rokok Menumpuk, Greenpeace Desak Produsen Bertanggung Jawab
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, menilai hasil analisis ini menunjukkan bahwa komitmen net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto belum terlihat nyata. Ia menilai berbagai kebijakan energi dalam negeri masih kontradiktif dengan target pengurangan emisi, khususnya pada sektor energi, penggunaan lahan, dan model ekstraktif.
“Makin lama Indonesia menurunkan emisinya, makin lama Indonesia terjebak di industri ekstraktif dan berbasis lahan—yang merusak keanekaragaman hayati serta meminggirkan hak-hak masyarakat. Aksi iklim yang progresif dan berbasis hak harus menjadi arah kebijakan ke depan,” ucapnya.
Laporan Greenpeace International berjudul 2035 Climate Ambition Gap menegaskan bahwa keberhasilan atau kegagalan G20 mencapai target 2035 sangat menentukan apakah dunia masih bisa menjaga batas 1,5°C. Sejumlah negara G20 telah menyerahkan target resmi 2035, seperti Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Uni Eropa, Indonesia, Jepang, Rusia, Afrika Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.
Sementara itu Meksiko dan Korea Selatan sudah mengumumkan targetnya namun belum menyerahkannya secara resmi ke UNFCCC. Argentina, India, dan Arab Saudi bahkan belum mengumumkan maupun menyerahkan target 2035 mereka.
