PLN EPI: Pengembangan Bioenergi Berpotensi Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pengembangan bioenergi dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia. Jika implementasi biomassa di pembangkit listrik mencapai 10 juta ton per tahun, sektor ini diperkirakan mampu menciptakan hingga 150 ribu lapangan kerja, menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp11 triliun, serta menekan emisi karbon hingga 12 juta ton CO2 per tahun.
Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, mengatakan pemanfaatan biomassa secara lebih luas dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
“Kalau implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit, nilai ekonominya bisa mencapai Rp 11 triliun. Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO2 dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun,” ujar Hokkop dalam Seminar Series #3 bertajuk Utilisasi BioEnergy di PLN untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia di Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut Hokkop, biomassa menjadi salah satu solusi yang dapat mempercepat upaya dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan melalui skema co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Melalui pendekatan ini, sebagian penggunaan batu bara digantikan dengan biomassa yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun limbah organik lainnya.
“Bioenergi bukan untuk menggantikan pembangkit fosil secara total dalam waktu singkat, melainkan menjadi solusi transisi yang memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional,” jelasnya.
BACA JUGA
- Indonesia Catat Serangan Buaya Tertinggi di Dunia, Kerusakan Ekosistem Jadi Sorotan
- BRIN: Peneliti Asing Masih Dominasi Penemuan Spesies Baru di Indonesia
- BRIN Ungkap 1.538 Spesies Baru di Indonesia dalam Enam Dekade Terakhir
Saat ini, PLN telah menerapkan co-firing biomassa di 52 PLTU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang 2025, pemanfaatan biomassa tercatat mencapai sekitar 2,35 juta ton dan berkontribusi menurunkan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.
Untuk mendukung program tersebut, PLN memanfaatkan sedikitnya 14 jenis biomassa dengan nilai kalor rata-rata 3.152 kCal/kg. Bahan baku yang digunakan berasal dari berbagai sumber, seperti cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Dalam pemaparannya, Hokkop menyebut Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, yakni sekitar 83,4 juta ton per tahun. Sebagian besar potensi tersebut berada di Sumatera sebesar 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, dan Jawa 13,1 juta ton per tahun.
Meski demikian, tingkat pemanfaatan bioenergi nasional masih tergolong rendah dibandingkan dengan potensi yang tersedia. Konsumsi bioenergi Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 0,35 gigajoule per kapita per tahun, sementara potensi yang dimiliki mencapai sekitar 6,5 gigajoule per kapita per tahun.
“Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pasok yang terintegrasi sehingga potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Selain biomassa, PLN EPI juga mulai mengembangkan sumber bioenergi lainnya seperti biogas dan biohidrogen. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi alternatif pengganti gas alam.
“Metana memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai energi, kita tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Hokkop.
Untuk memperkuat rantai pasok biomassa, PLN EPI saat ini juga mengembangkan sistem digital berbasis kecerdasan buatan (AI) guna memantau pasokan biomassa dan operasional co-firing di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Hokkop, pengembangan bioenergi tidak hanya berkontribusi terhadap target energi bersih dan pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan, seluruh rantai nilai tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal.
Karena itu, keterlibatan petani, koperasi, kelompok usaha desa, hingga generasi muda dinilai menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem biomassa nasional yang berkelanjutan.
