Kemenag Apresiasi Praktik Kurban Ramah Lingkungan yang Dilakukan Ormas Islam
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Agama (Kemenag) mengapresiasi berbagai praktik pelaksanaan kurban ramah lingkungan yang mulai diterapkan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi contoh dalam mendorong kesadaran ekologis masyarakat sekaligus mengurangi dampak lingkungan saat perayaan Iduladha.
Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama RI, M. Fuad Nasar, menilai praktik kurban berkelanjutan yang telah dijalankan sejumlah ormas layak diperluas ke berbagai lapisan masyarakat sebagai bagian dari penguatan kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan beragama.
Menurut Fuad, isu lingkungan kini menjadi salah satu perhatian utama Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Karena itu, kesadaran ekologis tidak hanya perlu menjadi wacana, tetapi juga diwujudkan melalui praktik keagamaan sehari-hari, termasuk dalam pelaksanaan ibadah kurban.
“Penguatan kesadaran ekologis dalam kehidupan beragama menjadi salah satu program prioritas Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama mendorong pendekatan ekoteologi, termasuk dalam praktik ibadah dan aktivitas keagamaan yang berdampak pada lingkungan,” ujar Fuad di Jakarta, dilansir dari laman Bimas Islam Kemenag, Rabu (3/6).
Salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, lanjut Fuad, adalah mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam distribusi daging kurban. Langkah tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Hari Raya Iduladha Tanpa Sampah Plastik.
BACA JUGA
- KLH dan UNIDO Bahas Penguatan Pengelolaan Ekosistem hingga Industri Berkelanjutan
- BRIN: Peneliti Asing Masih Dominasi Penemuan Spesies Baru di Indonesia
- WINGS Ajak Karyawan Terapkan Gaya Hidup Berkelanjutan lewat “Unity for Change”
Ia mengingatkan bahwa persoalan sampah plastik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Setiap tahun, Indonesia menghasilkan sekitar 11,18 juta ton sampah plastik yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Fuad memberikan apresiasi kepada sejumlah organisasi Islam yang telah mengembangkan konsep kurban berkelanjutan. Di antaranya Muhammadiyah bersama LazisMu melalui program Kurban Eco-Friendly serta Nahdlatul Ulama melalui LazisNU dengan inisiatif Green Qurban.
“Praktik yang dilakukan Muhammadiyah dan LazisMu melalui konsep Kurban Eco-Friendly, Nahdlatul Ulama melalui LazisNU dengan konsep Green Qurban, dan organisasi Islam lainnya merupakan praktik baik yang patut ditiru dan dikembangkan di semua lapisan masyarakat,” ujar Fuad.
Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan. Melalui penerapan kurban ramah lingkungan, momentum Iduladha tidak hanya menjadi sarana berbagi kepada sesama, tetapi juga kesempatan untuk mengurangi timbulan sampah dan memperkuat budaya hidup berkelanjutan di masyarakat.
