Luhut: Saya Pernah Usulkan Tutup Toba Pulp Lestari di Era Gus Dur karena Dampak Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengusulkan penutupan PT Toba Pulp Lestari Tbk—yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama Tbk—pada awal dekade 2000-an, menyusul kuatnya penolakan masyarakat atas dampak lingkungan yang ditimbulkan perusahaan tersebut.
Usulan itu disampaikan Luhut sekitar tahun 2001, saat ia menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Kala itu, Luhut mengaku menyaksikan langsung aksi demonstrasi warga saat berkunjung ke kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.
“Waktu zamannya Gus Dur, itu saya usulkan langsung setelah pulang dari situ, jadi kita suspend aja, kita tutup aja,” cerita Luhut dalam akun Instagram @luhut.pandjaitan, dikutip Selasa (13/1).
Menurut Luhut, usulan tersebut muncul setelah ia berdialog langsung dengan masyarakat yang memprotes keberadaan pabrik pulp tersebut. Warga menyampaikan kekhawatiran serius terhadap kerusakan lingkungan yang mereka rasakan sejak awal operasional perusahaan.
“Saya tanya sama rakyat itu, apa yang terjadi? Ini merusak lingkungan, Pak. Air ke Danau Toba juga. Terus kemudian bau juga Kemudian potongan kayu juga. Jadi Anda bayangin tahun 2000-2001 saja rakyat itu sudah paham mengenai lingkungan,” imbuhnya.
Baca Juga:
- Banjir Rendam Puluhan Titik di Jakarta, 46 Ruas Jalan Tergenang
- Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat untuk Perluas Akses Pendidikan Inklusif
- Produksi Pangan & Energi Fosil Bikin Dunia Rugi Rp83 Triliun Tiap Jam
Ia menyebut pemerintah memang sempat menghentikan operasional perusahaan, namun langkah tersebut tidak berlangsung lama. Menurut Luhut, kuatnya tekanan dan lobi membuat aktivitas perusahaan kembali berjalan.
“Kalau saya enggak keliru, itu ditutup sebentar. Tapi berjalannya perjalanan waktu, itu dibuka lagi karena lobby-nya itu luar biasa, sehingga buka lah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Luhut menilai aktivitas perusahaan pulp tersebut sebagai penyumbang utama kerusakan hutan di kawasan Tapanuli, Sumatera Utara. Ia menyebut bukti kerusakan itu dapat ditelusuri melalui citra satelit yang merekam perubahan tutupan hutan dari waktu ke waktu.
“Menurut saya, pemotongan kayu lalau diurut nanti foto satelit kan bisa dilihat, betapa zaman itu sebenarnya kerusakan yang paling besar hutan di Tapanuli adalah karena TPL ini, Indorayon ini,” ucapnya.
Nama Luhut sendiri kerap dikaitkan dengan Toba Pulp Lestari, bahkan dituding sebagai pemilik perusahaan tersebut—tuduhan yang telah ia bantah dalam berbagai kesempatan.
Isu tersebut kembali mencuat saat banjir besar melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025 lalu. Dalam peristiwa itu, Toba Pulp Lestari sempat dituding sebagai penyebab utama bencana, meski klaim tersebut dibantah oleh manajemen perusahaan.
