Peneliti IPB Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular untuk Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu
Jakarta, sustainlifetoday.com – Fenomena melimpahnya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung kembali menjadi sorotan. Selain dianggap mengganggu ekosistem, keberadaan spesies invasif ini juga menimbulkan risiko kesehatan karena masih dikonsumsi secara ilegal oleh sebagian masyarakat.
Di tengah persoalan tersebut, peneliti IPB University sekaligus Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menawarkan pendekatan berbasis ekonomi sirkular dengan memanfaatkan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai guna seperti pupuk organik dan suvenir.
Gagasan ini muncul setelah riset menemukan tingginya akumulasi logam berat pada jaringan tubuh ikan sapu-sapu di wilayah Bogor dan Jakarta. Menurut Edi, pemanfaatan non-pangan menjadi solusi yang lebih aman sekaligus berpotensi mengurangi limbah organik dari bangkai ikan.
“Saya percaya semua ciptaan Tuhan pasti ada manfaatnya. Manfaat yang paling dasar dari bahan organik adalah sebagai pupuk. Kita bisa memanfaatkan ikan sapu-sapu ini sebagai pupuk untuk tanaman hias, tanaman yang kita nikmati keindahannya, bukan untuk dimakan,” ujar Edi dikutip Kamis (7/5).
Pemanfaatan sebagai pupuk dinilai paling memungkinkan karena kandungan organik pada tubuh ikan cukup tinggi. Meski demikian, Edi mengingatkan pupuk hasil olahan ikan sapu-sapu dari sungai tercemar sebaiknya hanya digunakan untuk tanaman hias, bukan tanaman pangan seperti sayur atau buah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah perpindahan logam berat ke rantai makanan manusia. Sebagai ikan dasar perairan atau bentos, ikan sapu-sapu diketahui banyak menyerap polutan dari lumpur sungai, termasuk limbah industri dan logam berat dari sampah rumah tangga.
BACA JUGA
- IESR: Pajak Kendaraan Listrik Bisa Hambat Transisi Energi dan Investasi EV
- Indonesia Peringkat Kedua Penyumbang Emisi Metana Energi Fosil di Asia Selatan dan Tenggara
- Perusakan Mangrove di Riau Terbongkar, Arang Bakau Diduga Diekspor ke Malaysia
Selain dijadikan pupuk, Edi juga melihat potensi ekonomi kreatif dari bentuk fisik ikan sapu-sapu yang unik. Ia mencontohkan pemanfaatan ikan piranha kering di Brasil yang dijadikan pajangan atau suvenir khas.
“Mungkin ikan sapu-sapu yang dikeringkan bisa jadi suvenir khas karena bentuknya yang unik. Ini jauh lebih bermanfaat dan aman daripada masyarakat mengambil risiko kesehatan dengan mengonsumsinya sebagai bahan makanan olahan,” tambahnya.
Meski menawarkan alternatif pemanfaatan, Edi tetap menegaskan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan umum tidak aman untuk dikonsumsi. Karakteristik ikan tersebut sebagai “pembersih” dasar sungai membuatnya rentan mengandung zat berbahaya seperti merkuri dan timbal dari limbah domestik maupun industri.
Menurut dia, aspek keamanan pangan harus menjadi prioritas dalam menentukan pemanfaatan sumber daya hayati di lingkungan tercemar. Karena itu, pendekatan berbasis produk kreatif dan non-pangan dianggap menjadi jalan tengah untuk mengendalikan populasi spesies invasif sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.
“Untuk sekarang, peringatan kami tetap sama: ikan sapu-sapu dari perairan umum jangan dikonsumsi. Itu masih sangat membahayakan kesehatan,” pungkasnya.
