Cagar Budaya Hadapi Ancaman Bencana, Kemenbud dan PBN Perkuat Mitigasi Nasional
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Kebudayaan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Cagar Budaya Tangguh Bencana di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Bojongsari, Depok, pada 5–8 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dari seluruh Indonesia sebagai upaya memperkuat perlindungan cagar budaya dari ancaman bencana.
Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif menghadapi risiko bencana geologi dan hidrometeorologi yang tinggi. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga April 2026 tercatat telah terjadi 748 bencana, dengan banjir menjadi kejadian terbanyak.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengancam masyarakat, tetapi juga keberadaan cagar budaya yang bersifat rapuh dan tidak tergantikan. Sejumlah kejadian sebelumnya seperti kebakaran Museum Nasional Indonesia pada 2023, Museum Bahari pada 2018, serta kerusakan puluhan cagar budaya akibat bencana di Sumatera pada 2025 menjadi sorotan dalam upaya penguatan mitigasi.
Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, mengatakan perlindungan cagar budaya perlu dilakukan secara sistematis dan terintegrasi.
“Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga mengancam sejarah dan ingatan kolektif bangsa. Karena itu, pelestarian harus disertai kesiapsiagaan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit Bina Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Meta Ambar Pana, menilai penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam sistem perlindungan budaya berkelanjutan.
“Upaya pelestarian tidak bisa lagi hanya berfokus pada pemeliharaan. Kita perlu memastikan bahwa setiap pengelola cagar budaya memiliki kesiapan dalam menghadapi risiko, sehingga warisan budaya kita tetap terlindungi dalam berbagai situasi,” ungkapnya.
BACA JUGA
- BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Sepekan, Hujan Lebat hingga Petir Ancam Sejumlah Wilayah
- Menperin dan Menkeu Kaji Insentif Baru EV, Targetkan Kurangi Beban Subsidi Energi
- Saat Dunia Krisis Avtur, Emisi Jet Pribadi Orang Kaya Malah Naik
Melalui bimtek tersebut, peserta dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi risiko, melakukan penilaian bahaya, dan menyusun langkah mitigasi di lingkungan kerja masing-masing. Peserta berasal dari 28 Balai Pelestarian Kebudayaan, museum, serta unit kerja terkait di lingkungan Kementerian Kebudayaan.
Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Yayasan Perisai Budaya Nusantara (PBN). Ketua PBN, Hasanuddin, menyebut pendekatan yang digunakan bersifat multidisiplin dengan mengintegrasikan aspek K3, manajemen risiko, dan tata kelola berkelanjutan.
“Ancaman terhadap cagar budaya tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, seperti pengelolaan yang tidak tepat. Karena itu, penguatan kapasitas SDM menjadi kunci,” katanya.
Kementerian Kebudayaan sendiri menyatakan konsep Cagar Budaya Tangguh Bencana diarahkan tidak hanya pada pemeliharaan, tetapi juga mitigasi risiko dan keberlanjutan pelestarian jangka panjang.
