BMKG Prediksi Jakarta Mulai Masuk Musim Kemarau pada Akhir Mei 2026
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jakarta mulai memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026. Meski demikian, kondisi cuaca saat ini masih berada dalam fase transisi sehingga hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sophaheluwakan, mengatakan musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara seragam, melainkan bertahap di setiap daerah.
“Ada daerah-daerah yang memang sudah masuk kemarau, jadi masuknya kemarau di Indonesia tidak pernah seragam tetapi bertahap. Jakarta itu di akhir Mei baru mulai masuk kemarau,” ungkap Ardhasena dalam tayangan YouTube BMKG, dikutip Kamis (7/5).
Menurut BMKG, beberapa wilayah di Indonesia telah lebih dahulu memasuki musim kemarau, seperti sebagian Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan sebagian Maluku. Kondisi tersebut dipengaruhi angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah timur Indonesia.
“Itu karena pengaruh angin monsun Australia yang membawa udara kering dan pertama kali mengenai wilayah timur Indonesia,” tutur dia.
BACA JUGA
- Subsidi EV Baru Segera Meluncur, Pemerintah Prioritaskan Hilirisasi Nikel
- BRIN Siapkan Lima Teknologi Hadapi Banjir Rob yang Kian Masif di Pantura
- Saat Dunia Krisis Avtur, Emisi Jet Pribadi Orang Kaya Malah Naik
BMKG menjelaskan kondisi cuaca panas dan gerah yang dirasakan masyarakat saat ini dipicu kombinasi sisa uap air musim hujan yang masih tersimpan di atmosfer dengan peningkatan suhu udara selama masa peralihan musim.
Di Pulau Jawa, tanda awal musim kemarau mulai terlihat di wilayah utara Jawa Barat seperti Karawang dan Bekasi. Daerah dataran rendah umumnya mengalami musim kemarau lebih awal dibanding wilayah dataran tinggi.
BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibanding biasanya, meski dampaknya tidak akan sama di seluruh wilayah Indonesia.
“Musim kemarau 2026 akan lebih menantang, lebih panjang dan lebih kering, tetapi dampaknya tidak merata di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mengikuti informasi iklim yang akurat dan kredibel dari BMKG,” jelas dia.
Meski suhu udara meningkat, BMKG menilai peluang terjadinya gelombang panas atau heatwave di Indonesia relatif kecil karena kondisi geografis Indonesia yang dikelilingi laut. Menurut Ardhasena, kondisi tersebut membuat sirkulasi udara lebih dinamis sehingga tidak mendukung terbentuknya gelombang panas ekstrem.
