Fenomena Sinkhole di Sumatera Barat Dinilai Langka, Badan Geologi Buka Suara
Jakarta, sustainlifetoday.com — Fenomena sinkhole muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai kemunculan lubang ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sinkhole pada umumnya.
“Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik,” ucap ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, dilansir dari Antara, Senin (9/2).
Berdasarkan kaji cepat yang dilakukan pada Jumat (9/1) hingga Minggu (11/1), Badan Geologi menemukan bahwa sinkhole di Situjuah tidak terbentuk di kawasan batu gamping seperti sinkhole pada umumnya. Menurut Taufiq, sinkhole tersebut termasuk dalam kategori pseudokarst atau kars semu.
“Biasanya sinkhole ini terjadi di batu gamping, tapi Sinkhole Limapuluh Kota terjadi di batuan kapur,” kata Taufiq.
Sinkhole Situjuah justru terbentuk di material vulkanik berupa endapan gunung api atau tuflapili. Keunikan lainnya adalah keberadaan sungai bawah tanah yang membentuk rongga di dalam material vulkanik tersebut.
Rongga ini terbentuk melalui mekanisme erosi buluh, yaitu proses pengikisan partikel tanah secara perlahan oleh aliran air dari dalam tanah. Seiring waktu, proses tersebut membentuk saluran alami yang menyerupai pipa dan melemahkan struktur tanah di atasnya.
BACA JUGA:
- Pemerintah Resmi Larang Atraksi Gajah Tunggang demi Kesejahteraan Satwa
- AI Disalahgunakan untuk Konten Seksual Anak, UNICEF Serukan Perlindungan Mendesak
- Komunitas Migas Indonesia dan SKK Migas Sumbagsel Gelar Workshop PSAIM, Sustainability & Carbon Trading
Tim Badan Geologi juga menemukan lubang sinkhole yang terisi air berwarna biru. Fenomena ini dikenal dengan istilah cenote dalam bentang alam kars. Meski tampil mencolok, hasil pengujian menunjukkan derajat keasaman air berada pada kategori agak asam hingga netral.
“Karena keunikan ini Badan Geologi menamainya dengan Sinkhole Situjuah,” tutur Taufiq.
Badan Geologi mengidentifikasi dua faktor utama penyebab munculnya sinkhole di kawasan tersebut. Faktor pertama adalah suplai air yang melimpah, baik dari hujan maupun air tanah, yang secara terus-menerus mengikis material tanah dari dalam. Air tanah memiliki kemampuan untuk melarutkan dan menggerus partikel tanah secara perlahan.
Faktor kedua berkaitan dengan stabilitas tanah. Struktur tanah berupa tuf atau abu vulkanik bersifat rapuh dan mudah terkikis. Di dalam tanah juga terdapat jalur retakan yang mempercepat proses erosi buluh. Ketika rongga bawah tanah membesar dan tekanan melampaui batas toleransi, tanah di permukaan akhirnya runtuh.
Selain mengkaji penyebab, Badan Geologi juga memaparkan dua opsi penanganan. Opsi pertama adalah membiarkan sinkhole berkembang secara alami dengan catatan lubang tidak ditutup. Kestabilan dinding lubang harus dihitung secara rinci, termasuk penentuan radius aman. Air di dalam sinkhole perlu dialirkan keluar melalui saluran drainase agar tidak kembali meresap ke tanah sekitar. Aliran air diarahkan ke wilayah yang lebih stabil, seperti sungai di hilir, dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku setelah melalui kajian kelayakan.
Opsi kedua adalah mencegah sinkhole agar tidak melebar melalui penguatan tebing menggunakan rekayasa teknis yang melibatkan ahli teknik sipil. Dalam opsi ini, pengelolaan aliran air sungai bawah tanah harus direncanakan secara matang agar tidak mengganggu kestabilan wilayah hulu maupun hilir.
Dalam laporan kaji cepat, Badan Geologi juga menekankan pentingnya upaya pengurangan risiko berbasis masyarakat. Warga diminta mengenali gejala awal sinkhole dan mengurangi rembesan air berlebihan ke dalam tanah, terutama di area yang diduga memiliki aliran bawah tanah. Pemilihan jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air serta pengelolaan saluran pembuangan rumah tangga juga menjadi perhatian penting.
Terkait isu yang beredar di masyarakat, Taufiq menegaskan air di dalam sinkhole tidak memiliki khasiat khusus. Berdasarkan uji laboratorium, kualitas air tersebut sama seperti air pada umumnya.
“Air berwarna biru adalah fenomena alam dan bukan hal mistis,” kata Taufiq.
