Praktik Pembakaran Plastik dalam Industri Pangan Disorot Ahli
Jakarta, sustainlifetoday.com — Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Di tengah keterbatasan pengelolaan limbah dan tekanan biaya produksi, muncul praktik berisiko di sejumlah sentra industri makanan yang memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar alternatif dalam proses penggorengan.
Praktik tersebut kerap dianggap lebih murah dan praktis. Namun, dari sudut pandang kesehatan dan keberlanjutan lingkungan, penggunaan plastik sebagai bahan bakar justru menghadirkan ancaman baru yang berdampak panjang, baik bagi konsumen, pekerja, maupun masyarakat sekitar.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, menegaskan bahwa pembakaran plastik dalam proses produksi pangan berpotensi menghasilkan senyawa berbahaya yang dapat mencemari produk makanan sekaligus lingkungan sekitar.
Emisi gas hasil pembakaran plastik dapat mengontaminasi pangan selama proses pengolahan berlangsung.
“Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan,” ujar Diah dikutip dari National Geographic Indonesia pada Sabtu (7/2).Praktik Pembakaran Plastik dalam Industri Pangan Disorot Ahli
Secara biomedis, dioksin dan furan tergolong polutan organik persisten yang mampu bertahan lama di dalam tubuh manusia. Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini dinilai berbahaya karena bersifat genotoksik atau mampu merusak DNA.
“Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker,” jelasnya.
Menurut Diah, kontaminan berbahaya tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan yang terpapar selama proses produksi.
Selain menghasilkan senyawa kimia beracun, pembakaran plastik juga memperparah persoalan lingkungan melalui peningkatan paparan mikroplastik di udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat terhirup, mengendap pada bahan pangan, dan masuk ke dalam saluran pernapasan maupun pencernaan.
Mikroplastik yang masuk ke tubuh berpotensi menyebar ke berbagai organ dan menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Organ Tubuh yang Paling Rentan Terdampak
Diah menjelaskan bahwa organ yang paling rentan terdampak paparan dioksin dan furan adalah hati atau hepar. “Hati bekerja keras untuk mendetoksifikasi racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil dan sulit diurai, justru terjadi beban kerja berlebih yang memicu peradangan,” papar Diah.
Selain itu, senyawa hasil pembakaran plastik juga termasuk dalam kelompok endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon manusia. Zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme.
BACA JUGA:
- Izin Pengelola Bandung Zoo Dicabut, Kemenhut dan Pemkot Jamin Perawatan Satwa
- BMKG: Gempa Berkekuatan M6,4 yang Guncang Wilayah Pacitan Jenis Megathrust
- BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Berlanjut, Ini Daftar Wilayah yang Perlu Waspada
Paparan senyawa berbahaya tersebut bahkan dapat menembus sawar plasenta. “Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin,” ujarnya.
Risiko kesehatan akibat pembakaran plastik tidak hanya dialami konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra industri. Asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 serta mikroplastik di udara yang dapat terhirup hingga ke paru-paru.
“Partikel ini sulit diurai oleh sistem pertahanan tubuh dan dapat memicu peradangan secara terus-menerus,” jelas Diah.
Dalam jangka pendek, paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut. Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menurunkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.
Diah menegaskan bahwa langkah paling krusial untuk menekan risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan adalah menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar industri pangan. “Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang,” tegasnya.
Sebagai langkah perlindungan mandiri, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator seperti N95 saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, menghindari penggunaan plastik untuk makanan panas, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur kaya antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, dan selenium.
“Asupan ini dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko,” jelas Diah.
