Ancam Habitat Satwa dan Jalur Migrasi Burung, Karhutla Papua Picu Krisis Ekologis
Jakarta, sustainlifetoday.com – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Papua Selatan tidak hanya berdampak pada polusi udara dan kerusakan vegetasi, tetapi juga memicu ancaman krisis ekologis terhadap keanekaragaman hayati kawasan timur Indonesia. Kebakaran yang merambah lanskap hutan rawa, savana, hingga lahan basah berpotensi mengganggu ruang hidup satwa endemik Papua serta koridor persinggahan burung migran lintas benua.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026, akumulasi luas area terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare dengan 253 hektare di antaranya masih berstatus belum padam. Pemantauan satelit mengidentifikasi 379 titik panas (hotspot) dan 171 titik api. Di balik angka kerugian vegetasi tersebut, terancam fungsi ekologis bentang alam yang menjadi habitat vital berbagai fauna terlindungi.
Salah satu kawasan konservasi utama yang menghadapi risiko ekologis ini adalah Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, kawasan lahan basah seluas 431.425 hektare ini menampung kombinasi ekosistem rawa, savana, dan hutan yang menjadi tumpuan hidup berbagai spesies.
Balai Taman Nasional Wasur mencatat kawasan tersebut menjadi rumah bagi 403 spesies burung, dengan 74 spesies di antaranya merupakan fauna endemik Papua dan 114 spesies tergolong satwa dilindungi. Lebih dari itu, Wasur berfungsi sebagai lokasi persinggahan (stopping site) penting bagi ribuan burung migran asal Australia dan Selandia Baru untuk mencari makan dan beristirahat dalam rute perjalanan antarbenua.
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Dampak karhutla terhadap satwa liar tidak sekadar berupa ancaman kobaran api secara langsung, melainkan juga degradasi struktur habitat akibat asap, radiasi panas, serta perubahan kimiawi tanah. Berkurangnya tutupan tajuk dan vegetasi bawah merusak zona perlindungan, area bersarang, serta sumber pakan alami satwa.
Kerentanan fauna terhadap gangguan habitat terekam dalam riset bertajuk ‘Wildlife in Disturbed Forests: Reptile and Amphibian Diversity in South Papua’ yang dipublikasikan pada jurnal Media Konservasi IPB University (November 2025). Berdasarkan survei lapangan di hutan produksi Boven Digoel, para peneliti menemukan bahwa tingkat gangguan habitat yang tinggi berbanding lurus dengan penurunan drastis jumlah individu dan keanekaragaman spesies reptil serta amfibi.
Pentingnya keutuhan bentang lahan basah Wasur sebagai ruang hidup burung migran juga ditegaskan oleh peneliti Universitas Papua, Damianus V.S. Woghomugu dan Hermanus Warmetan. Riset tersebut menggarisbawahi bahwa keunikan ekosistem Wasur dibentuk oleh keterkaitan erat antar-tipe hutan dan perairan. Kerusakan pada satu segmen lahan basah atau vegetasi rawa akibat kebakaran berpotensi memutus rantai pakan akuatik dan merusak fungsi kawasan secara keseluruhan.
BACA JUGA
- Cegah Karhutla di Sumsel, Pemerintah Estafetkan Air 23 Km Basahi Gambut OKI
- Cegah Krisis Air Akibat Infrastruktur AI, Pakar UNAIR Dorong Efisiensi dan Air Daur Ulang
- Dorong Ekonomi Inklusif, Pertamina Boyong UMKM Keberlanjutan ke Forum Energi ASEAN
Dampak jangka panjang karhutla pada ekosistem berstruktur khusus seperti lahan basah dan gambut membutuhkan waktu pemulihan hingga hitungan dekade. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada April 2024 berjudul ‘Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem’ memaparkan analisis ekologis selama 16 tahun terkait siklus pasca-kebakaran hutan gambut tropis di Indonesia.
Hasil studi PNAS menunjukkan bahwa hutan yang terbakar mengalami penurunan kualitas struktur habitat, kepadatan pohon, dan tutupan tajuk berkisar 58 hingga 98 persen dibandingkan kawasan yang tidak terbakar. Penurunan signifikan juga dialami oleh populasi keanekaragaman hayati, khususnya komunitas pohon, capung jarum, dan kupu-kupu. Kendati indikator pemulihan ekosistem mulai terlihat setelah kurun waktu 12 tahun, keterjadian kebakaran berulang (repeated fire) terbukti berisiko menggagalkan atau membalikkan kembali proses restorasi alami tersebut.
Ancaman kerusakan sistemik ini menegaskan bahwa penanganan karhutla di Papua Selatan tidak cukup dihentikan pada fase pemadaman api semata. Pemantauan ekologis paska-bencana, pengawasan ketat zona konservasi rawan terbakar, serta restorasi vegetasi berkelanjutan menjadi instrumen krusial guna menjaga keutuhan ekosistem dan keanekaragaman hayati Papua.
