Dorong Green Mining di Kaltim, SUN Bangun PLTS Apung 80 MW dan Integrasi 1000 EV
Jakarta, sustainlifetoday.com – Sektor industri pertambangan nasional mulai merealisasikan transisi energi guna menekan ketergantungan pada bahan bakar diesel dan menurunkan tingkat emisi operasional. Mengakselerasi praktik pertambangan ramah lingkungan (green mining), penyedia solusi energi terbarukan SUN merintis proyek elektrifikasi terpadu di Kalimantan Timur yang mengintegrasikan pembangkit energi bersih, sistem penyimpanan baterai, hingga penyediaan armada kendaraan listrik (electric vehicle/EV) skala masif.
Inisiatif green mining ini ditandai melalui pelaksanaan groundbreaking pada 30 Oktober 2026. Dalam proyek tersebut, SUN merancang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas hingga 80 megawatt (MW), di mana salah satu inovasinya memanfaatkan area void atau bekas galian tambang tergenang air untuk penempatan PLTS apung (floating solar). Pemanfaatan lahan bekas tambang ini memungkinkan penambahan pasokan energi terbarukan tanpa perlu melakukan pembukaan lahan baru.
Pasokan listrik dari PLTS tersebut akan didukung oleh Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 160 megawatt hour (MWh) untuk menjamin stabilitas operasional tambang. Di sektor mobilitas dan logistik, proyek ini menyiapkan pemanfaatan lebih dari 1.000 unit kendaraan listrik, mulai dari kendaraan operasional ringan hingga armada transportasi pendukung, yang dilengkapi fasilitas charging station, bengkel pemeliharaan, serta Fleet Management System.
Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, menegaskan bahwa elektrifikasi di kawasan pertambangan telah bergeser dari sekadar wacana keberlanjutan menjadi keputusan bisnis yang krusial bagi efisiensi industri.
“Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada diesel menghadirkan tantangan biaya, distribusi, dan kepastian pasokan. Dengan teknologi yang semakin berkembang, perusahaan tambang kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan andal,” ujar Karina dalam siaran pers, Kamis (5/11/2026).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Karina menggarisbawahi bahwa keberhasilan elektrifikasi pertambangan membutuhkan kesiapan rantai pasok pendukung secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Elektrifikasi pertambangan bukan sekadar mengganti kendaraan diesel dengan kendaraan listrik. Yang terpenting adalah memastikan seluruh ekosistemnya siap, termasuk pasokan energi, charging station, workshop, maintenance, dan sistem pengelolaan armada,” jelasnya.
Guna mengatasi tantangan besarnya belanja modal awal (upfront capital expenditure/CAPEX) yang kerap menjadi hambatan perusahaan tambang, SUN menawarkan model bisnis Electrification as a Service (EaaS). Melalui skema ini, SUN menyediakan seluruh siklus layanan, mulai dari perencanaan, pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi armada EV, hingga pemeliharaan berkala tanpa menuntut alokasi belanja modal awal dari pihak perusahaan tambang.
“Melalui model layanan tanpa investasi awal, kami ingin mempermudah pelanggan mengadopsi elektrifikasi sekaligus memberikan kepastian dukungan operasional. Implementasi ini menjadi langkah awal menuju pengembangan yang lebih besar, termasuk ekspansi lebih dari 1.000 kendaraan listrik,” kata Karina.
Melalui integrasi PLTS apung, BESS 160 MWh, dan skema pembiayaan EaaS, ekosistem green mining di Kalimantan Timur ini diharapkan mampu memangkas konsumsi fosil, mengoptimalkan biaya distribusi operasional, serta menjadi percontohan dekarbonisasi industri ekstraktif nasional secara berkelanjutan.
BACA JUGA
