Soroti Karhutla dan MSCI, Dino Patti Djalal Minta Indonesia Jaga ‘Trust’ Negara Tetangga
Jakarta, sustainlifetoday.com – Penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatra dan Kalimantan menjadi test case krusial bagi kepemimpinan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai krisis kabut asap lintas batas (transboundary haze) mensyaratkan pendekatan diplomasi lingkungan yang bijak guna menjaga kepercayaan kawasan Asia Tenggara.
Dalam tanggapannya terkait eskalasi karhutla yang memicu penurunan kualitas udara di Malaysia dan Singapura, Dino menggarisbawahi pentingnya mempertahankan kepemimpinan inklusif Indonesia di ASEAN, khususnya setelah pemerintah akhirnya sepakat menerima bantuan penanggulangan dari negara tetangga pekan lalu.
“Bagaimana Indonesia bisa terus bertetangga dengan baik dalam situasi sulit dan bagaimana Indonesia sebagai negara yang dianggap sebagai pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara bisa menangani krisis asap ini dengan cara yang semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia bukan kekerdilan,” ujar Dino di media sosialnya, Kamis (22/10/2026).
Dino mencontohkan rekam jejak diplomasi krisis saat penanganan bencana tsunami Aceh pada 2004 silam, di mana kepemimpinan Indonesia berhasil mengordinasikan kolaborasi negara-negara tetangga secara solid di bawah komando RI.
“Dan akibatnya respect dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia semakin tinggi,” kata dia.
BACA JUGA
- Olah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih, PGN Bidik Penyaluran Biometana di Sumsel Pada 2027
- Sanksi Karhutla Meluas, Kemenhut Bekukan Izin 6 Perusahaan di Kalteng dan Ancam Sanksi Pidana
- Jajaki Teknologi Gasifikasi Plasma, PLN EPI dan FLEXIH Inc Garap Hidrogen Rendah Karbon
Di samping krisis ekologis, Dino turut menepis narasi spekulatif yang menuduh Singapura berupaya menjatuhkan pasar modal Indonesia serta merebut aset nasional melalui pertimbangan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sebelumnya, MSCI mengumumkan pertimbangan untuk menurunkan peringkat indeks Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Dino menegaskan bahwa tuduhan konspirasi terhadap Singapura tidak memiliki dasar objektif.
“[Ini] adalah pandangan yang tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya,” kata Dino.
“Mengapa? Karena Singapura adalah negara tetangga yang mempunyai goodwill, trust, dan track record kerjasama yang sudah lama teruji oleh Indonesia.”
Menurut Dino, Singapura memiliki ketergantungan dan kepentingan strategis yang sangat tinggi terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia, baik di sektor investasi, perdagangan, pendidikan, maupun bantuan darurat bencana seperti tsunami, gempa bumi, hingga pandemi Covid-19.
“Karena itu, sebagai negara kecil yang secara geografis dihimpit Indonesia dan Malaysia, hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia,” ungkap Dino.
BACA JUGA
