Olah Limbah Sawit Jadi Energi Bersih, PGN Bidik Penyaluran Biometana di Sumsel Pada 2027
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mengakselerasi diversifikasi energi bersih melalui pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) menjadi biometana di Sumatra Selatan. Proyek komersialisasi gas ramah lingkungan ini ditargetkan mulai beroperasi (onstream) pada 2027 mendatang dengan dukungan keterlibatan konsorsium perusahaan asal Jepang di sisi pasokan maupun pembeli (offtaker).
Group Head Gas Supply dan LNG Trading PGN, Muhammad Anas Pradipta, menyampaikan bahwa perseroan saat ini sedang memfinalisasi perjanjian kerja sama komersial proyek biometana tersebut.
“Proyeknya PGN untuk Sumatra Selatan di biometana itu targetnya onstream ya di 2027 ini segera. Pembelinya pun juga sudah ada,” ujar Anas kepada awak media, Rabu (21/10/2026).
Anas menjelaskan bahwa proyek biometana ini mengusung kemitraan strategis lintas negara yang melibatkan entitas bisnis Jepang, baik sebagai mitra pengembang sumber pasokan maupun penyerap gas akhir. Di samping itu, konsumen industri di Jawa Barat juga telah menyatakan kesiapannya untuk menyerap pasokan biometana tersebut melalui jaringan pipa transmisi.
“Jadi ini kerja sama yang bagus antara PGN dengan grup Jepang. Sumbernya pun ada keterlibatan perusahaan Jepang, nanti pembelinya pun ada keterlibatan pembeli Jepang,” katanya.
BACA JUGA
- Diduga Digunakan untuk Perluasan Lahan, BNPB Minta Kasus Karhutla 44 Area Konversi Sumsel Diusut
- Mitigasi Abrasi Pantura, Pemerintah Padukan Restorasi Mangrove dan Teknologi HexBricks di Demak
- Cetak Rekor, Produksi Listrik Panas Bumi PGEO Tembus 4.114 GWh per September 2026
Berbeda dengan karakteristik pasokan gas bumi konvensional, produksi biometana berbasis limbah organik memiliki dinamika volume yang berfluktuasi mengikuti musim panen kelapa sawit. Anas memberikan gambaran bahwa pada masa puncak panen, volume produksi dapat meningkat hingga dua kali lipat dari rerata harian.
Guna menjaga stabilitas pasokan dan keekonomian proyek, PGN menerapkan skema foundation buyer yang dikombinasikan dengan opsi penyerapan fleksibel.
“Secara rata-rata misalnya, rata-rata kita bikin 1 MMSCFD. Tapi di titik-titik tertentu dia bisa sampai 2 MMSCFD, tapi di titik-titik lain cuma 0,5 MMSCFD. Yang ini yang kita jaga, jadi ada foundation buyer-nya, sama ada yang nanti untuk opsi-opsi tambahannya,” jelas Anas.
Dari aspek transportasi dan distribusi, PGN akan menerima penyaluran biometana langsung di titik injeksi yang terhubung dengan jaringan pipa gas bumi milik perseroan.
“Jadi PGN menerima di titik di pipanya PGN,” ujarnya.
Inisiatif di Sumatra Selatan ini dimotori oleh kolaborasi PGN bersama Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS). Ketiganya telah melaksanakan groundbreaking fasilitas biomethane plant melalui perusahaan patungan PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI) pada Senin (5/10/2026).
Fasilitas tersebut dirancang memproduksi biometana sekitar 150.000 MMBTU per tahun sebagai wujud konkret implementasi Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani PGN dan TTI sejak 2022. Dalam ekosistem ini, PGN bertindak sebagai offtaker utama sekaligus transporter yang menyalurkan biometana ke PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) serta sektor manufaktur lainnya melalui jaringan pipa PGN.
BACA JUGA
