Reduksi Massa 80 Persen, Teknologi Biochemical Chamber Ditawarkan untuk Pengolahan Sampah Organik
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah organik di tingkat sumber menjadi salah satu strategi krusial untuk mengakselerasi penerapan ekonomi sirkular dan menekan krisis keterisian Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia. Langkah pengolahan ini dinilai mampu mengubah beban limbah dari kawasan komersial dan industri menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomis.
Direktur PT Wannan Inti Teknologi, Jeremy Wijaya, menjelaskan bahwa pendekatan pengelolaan sampah organik nasional perlu bergeser dari sekadar metode konvensional kumpul-angkut-buang menuju sistem pengolahan terintegrasi. Penanganan langsung di lokasi sumber seperti hotel, restoran, industri makanan dan minuman, hingga kawasan komersial, menjadi alternatif strategis dalam mengatasi tantangan karakteristik limbah organik yang berkadar air tinggi dan berpotensi menimbulkan bau.
“Teknologi biochemical chamber sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik, mulai dari skala usaha hingga industri,” kata Jeremy dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
BACA JUGA
- Soroti Karhutla dan MSCI, Dino Patti Djalal Minta Indonesia Jaga ‘Trust’ Negara Tetangga
- Terhalang El Nino Kuat dan Kepekatan Asap, BMKG Prediksi Awal Musim Hujan Mundur
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
Guna merespons tantangan tersebut, sistem terintegrasi yang diperkenalkan mencakup tahap pemilahan awal hingga pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber. Perangkat teknologi ini dirancang fleksibel untuk berbagai tingkatan skala operasional, dengan variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari.
Melalui siklus pengolahan cepat 1 x 24 jam, teknologi ini mampu memproses dan mereduksi volume limbah secara signifikan. Sebagai gambaran, input material sebanyak 120 ton dapat direduksi hingga menghasilkan sekitar 24 ton material olahan sekunder.
“Dengan mesin biochemical chamber, dalam 1 x 24 jam reduksi massanya mencapai 80%. Hasil dari reduksi massa itu bisa digunakan untuk media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, meningkatkan unsur hara, serta mendukung reklamasi lahan,” kata Jeremy.
Optimalisasi efisiensi dan pemanfaatan hasil olahan tersebut diharapkan dapat menekan volume sampah secara signifikan sebelum sampai ke TPA, bergantung pada konsistensi penerapan teknologi dan sistem tata kelola di area operasional.
Dukungan terhadap penguatan ekosistem sirkular ini turut didorong melalui sinergi antar-entitas penyedia solusi lingkungan. CEO PT Indonesia Environment Consultant, E. Kurniawan Padma, menyampaikan bahwa kemitraan lintas sektor menjadi kunci untuk memberikan fleksibilitas bagi dunia usaha dalam menerapkan prinsip keberlanjutan.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas pilihan bagi pelaku usaha dalam mengelola limbah secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan karakteristik material, kesesuaian teknologi, dan potensi pemanfaatan hasil olahan,” ujarnya.
BACA JUGA
