Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam Akibat Banjir dan Longsor di Sumut
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Sebuah studi terbaru mengungkap dampak serius bencana hidrometeorologi terhadap keberlanjutan ekosistem hutan Batang Toru, Sumatra Utara. Puluhan individu orangutan Tapanuli dilaporkan terdampak banjir dan longsor yang melanda kawasan tersebut, sehingga memperbesar ancaman kepunahan spesies endemik yang hanya hidup di wilayah itu.
Laporan yang dipublikasikan pada Senin (15/12) menyoroti rangkaian bencana yang dipicu oleh siklon Senyar pada akhir November 2025. Hujan dengan intensitas ekstrem mengguyur kawasan Batang Toru, salah satu hutan tropis terpenting di Indonesia sekaligus habitat tunggal orangutan Tapanuli di dunia. Peristiwa ini memicu banjir besar dan longsor di berbagai titik hutan.
Dalam kurun waktu empat hari, curah hujan di wilayah tersebut tercatat melampaui 1.000 milimeter, jauh di atas rata-rata curah hujan bulanan normal sebesar 230–300 milimeter. Kondisi ini menyebabkan debit air setara empat bulan hujan tumpah hanya dalam hitungan hari, mempercepat terjadinya kerusakan bentang alam.
Batang Toru merupakan satu-satunya habitat orangutan Tapanuli, spesies yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada 2017 dan saat ini berstatus kritis (critically endangered). Sebelum bencana, populasinya diperkirakan hanya 581 individu, dengan rentang ketidakpastian antara 180 hingga 1.201 individu. Dalam konteks konservasi, kehilangan sejumlah kecil individu saja sudah berpotensi mengguncang kelangsungan hidup spesies ini.
Untuk menilai skala kerusakan, tim peneliti menggunakan analisis citra satelit Sentinel-2 dan PlanetScope. Hasilnya menunjukkan sekitar 4.000 hektare hutan utuh hilang akibat longsor besar dan tumbangnya pepohonan, serta sekitar 2.500 hektare tambahan terdampak longsor, meskipun sebagian area sulit terdeteksi karena tutupan awan pascabencana.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti memperkirakan antara 33 hingga 54 individu orangutan Tapanuli terdampak langsung oleh peristiwa ini.
“Puluhan ekor orangutan ini kemungkinan besar mati akibat longsor, tumbangnya pohon, atau banjir”, tulis laporan tersebut.
“Peristiwa ini merupakan pukulan populasi berat, mengingat tingkat kematian tahunan sebesar satu persen saja sudah cukup untuk mendorong spesies ini menuju kepunahan,” tambah laporan tersebut.
Tim peneliti diketuai oleh Erik Meijaard, yang telah lama menaruh perhatian pada isu konservasi orangutan di Asia Tenggara. Tim ini juga melibatkan Jatna Supriatna, guru besar dan ahli primata Indonesia, serta David Gaveau, pengembang peta Atlas Nusantara yang berfokus pada hutan tropis Indonesia.
Baca Juga:
- Tegur Pejabat yang Lakukan ‘Wisata Bencana’, Prabowo: Bukan Tempat Pencitraan!
- Kemenhut Selidiki Jaringan Peredaran Kayu Ilegal di Sumut, Dinilai Perparah Banjir dan Longsor
- Siap Layani Kendaraan Listrik Saat Nataru, ASDP Sediakan SPKLU di Pelabuhan
Kerusakan hutan Batang Toru tidak hanya berdampak pada satwa liar, tetapi juga pada keanekaragaman hayati lain dan keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar. Kawasan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air, sumber penghidupan warga melalui pertanian dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu, serta lokasi ekowisata berbasis konservasi.
Laporan tersebut menyerukan pemerintah Indonesia dan komunitas internasional untuk bertindak cepat dalam merespons dampak bencana sekaligus memperkuat upaya adaptasi terhadap risiko bencana serupa di masa mendatang.
“Diperlukan tindakan segera dan dukungan nyata untuk memastikan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli”, tulis laporan tersebut.
Pemerintah diharapkan mempertegas perlindungan habitat orangutan Tapanuli, memperketat penghentian alih fungsi bentang alam Batang Toru, serta memastikan masyarakat lokal memperoleh dukungan ekonomi yang berkelanjutan tanpa harus merusak hutan.
Baca Juga:
