China Pecahkan Hambatan Utama “Matahari Buatan” untuk Energi Bersih
Jakarta, sustainlifetoday.com – Tim peneliti dari Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) di Hefei, China, melaporkan capaian baru dalam pengembangan teknologi reaktor fusi nuklir yang kerap dijuluki sebagai “matahari buatan”. Terobosan ini dinilai dapat membuka jalan bagi pengembangan sumber energi rendah emisi yang lebih efisien di masa depan.
Para ilmuwan berhasil mengoperasikan reaktor melampaui batas kepadatan plasma (plasma density limit), sebuah hambatan fisika yang selama puluhan tahun menjadi tantangan utama dalam penelitian fusi nuklir di berbagai negara.
Keberhasilan tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi reaktor fusi karena semakin tinggi kepadatan plasma, semakin besar pula peluang terjadinya reaksi fusi yang menghasilkan energi.
Reaktor EAST menggunakan medan magnet superkonduktor untuk mengurung plasma bersuhu sangat tinggi agar reaksi fusi dapat berlangsung secara stabil. Namun, selama ini para peneliti di seluruh dunia menghadapi kendala yang dikenal sebagai “Limit Greenwald”, yaitu batas kepadatan plasma yang jika dilampaui dapat menyebabkan ketidakstabilan sistem.
Ketika kepadatan plasma melebihi ambang tersebut, plasma berisiko pecah dan merusak bagian dalam reaktor, sehingga membatasi potensi peningkatan produksi energi.
BACA JUGA
- Harita Nickel Catat Penghindaran Emisi 977 Ribu Ton CO2e pada Kuartal I 2026
- Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi hingga Awal Juni, BMKG Minta Warga Waspada
- DPRD DKI Minta Penanganan Sampah Jakarta Tak Hanya Andalkan PSEL
Berdasarkan penelitian terbaru, para ilmuwan di Institut Fisika Plasma, Akademi Ilmu Pengetahuan China menemukan bahwa penyebab utama ketidakstabilan tidak hanya berasal dari tingginya kepadatan plasma. Faktor lain yang berpengaruh adalah masuknya zat pengotor atau impuritas, khususnya partikel tungsten yang terkikis dari dinding reaktor.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti mengembangkan model baru bernama Boundary Plasma-Wall Interaction Self-Organization (PWSO). Model ini dipadukan dengan teknologi pemanasan resonansi siklotron elektron untuk mengurangi dampak negatif partikel tungsten terhadap stabilitas plasma.
Melalui pendekatan tersebut, plasma berhasil beroperasi pada kondisi yang lebih stabil dan mampu memasuki zona yang disebut sebagai “density free zone”, sehingga dapat melampaui batas kepadatan tradisional tanpa memicu gangguan yang merusak reaktor.
Temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini dinilai menjadi langkah penting dalam pengembangan teknologi fusi nuklir. Meski pemanfaatan energi fusi secara komersial masih membutuhkan waktu dan pengembangan lebih lanjut, capaian tersebut berhasil menjawab salah satu tantangan teknis terbesar dalam sistem pengurungan magnetik yang digunakan pada reaktor fusi.
Di tengah upaya global mempercepat transisi menuju energi bersih, kemajuan teknologi fusi nuklir terus menjadi perhatian karena berpotensi menghadirkan sumber energi beremisi rendah dengan kapasitas besar untuk mendukung kebutuhan energi masa depan.
