Klaim Kualitas B50 Lebih Baik Dibanding B40, Bahlil: Kadar Airnya Lebih Rendah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah memastikan implementasi biodiesel 50 persen (B50) akan dimulai pada 1 Juli 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut hasil uji coba sementara menunjukkan kualitas B50 lebih baik dibandingkan campuran biodiesel 40 persen (B40) yang saat ini digunakan.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kadar air pada bahan bakar. Menurut Bahlil, kadar air yang lebih rendah membuat B50 dinilai lebih andal dalam menjaga performa dan kestabilan operasional mesin diesel.
“Sekarang kan kita uji coba terus semuanya 80 sampai 90 persen dari hasil uji coba alhamdulillah baik bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 dan B50 itu lebih baik di B50,” kata Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (9/6).
Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil pengujian Kementerian ESDM yang menunjukkan adanya penyempurnaan spesifikasi teknis pada B50. Batas maksimum kadar air ditetapkan sebesar 300 ppm, lebih rendah dibandingkan B40 yang berada di angka 320 ppm.
Selain itu, pemerintah juga memperketat parameter kualitas lainnya. Batas maksimum monogliserida diturunkan menjadi 0,47 persen massa dari sebelumnya 0,5 persen massa, sementara standar kestabilan oksidasi ditingkatkan menjadi minimal 900 menit dari sebelumnya 720 menit.
BACA JUGA
- Reklamasi Tambang Jadi Pilar Keberlanjutan, MIND ID Perkuat Pemulihan Ekosistem
- KKP dan Konservasi Indonesia Perkuat Pendanaan untuk Ekonomi Biru
- Pulau Sampah Viral, DPRD Dorong Solusi Jangka Panjang Atasi Krisis Sampah Pesisir
Meski proses pengujian masih berlangsung, pemerintah menegaskan jadwal implementasi B50 tidak berubah.
“Oh itu per 1 Juli 2026 akan diimplementasikan. Saya mungkin satu minggu lagi akan melakukan rapat dengan tim uji coba,” katanya.
Bahlil menambahkan, hasil evaluasi final akan diumumkan setelah seluruh tahapan pengujian selesai dilakukan.
“Namun hasil akhirnya akan kami sampaikan pada saat setelah rapat evaluasi final,” ujarnya.
Program uji coba B50 telah berjalan sejak 9 Desember 2025 dan mencakup enam sektor utama, yakni otomotif, pertambangan, alat pertanian, kelautan, pembangkit listrik, dan perkeretaapian. Pada sektor otomotif, kendaraan dengan berat di bawah 3,5 ton ditargetkan menempuh jarak uji hingga 50.000 kilometer, sementara kendaraan di atas 3,5 ton ditargetkan mencapai 40.000 kilometer.
Hingga April 2026, hasil sementara menunjukkan penggunaan B50 pada kendaraan diesel berjalan tanpa kendala signifikan. Kondisi mesin maupun filter bahan bakar masih berada dalam batas standar pabrikan. Sementara itu, pengujian emisi memperlihatkan kadar karbon monoksida (CO) dan tingkat opasitas masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Hasil tersebut mendapat respons positif dari industri otomotif. Anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Abdul Rochim, berharap spesifikasi bahan bakar yang digunakan dalam pengujian dapat menjadi standar saat implementasi nasional nanti.
“Jadi kalau kami dari Gaikindo memandang hasil akhirnya bisa bertahan seperti ini, seperti hasil sementara ini, tentunya kami sangat senang dan kami berharap bahwa spek bahan bakar yang digunakan untuk uji ini menjadi spek untuk implementasi B50,” ujar Rochim.
Selain mendukung transisi energi dan pengurangan emisi, pemerintah memperkirakan implementasi B50 akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Hingga akhir 2026, program ini diproyeksikan mampu menghemat devisa sebesar Rp157,28 triliun serta meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) sekitar Rp24,68 triliun.
Sejalan dengan penerapan B50, alokasi biodiesel nasional juga ditingkatkan dari 15,64 juta kiloliter menjadi 17,60 juta kiloliter hingga akhir tahun. Pemerintah menargetkan program ini mampu menyerap sekitar 2,2 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang 2026.
