Operasi Modifikasi Cuaca Dinilai Berisiko, BRIN Minta Kajian Ilmiah Lebih Mendalam
Jakarta, sustainlifetoday.com — Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, menilai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) perlu dikaji secara lebih mendalam sebelum terus dijadikan andalan dalam pengendalian cuaca ekstrem.
Selama ini, OMC kerap dilakukan untuk mengatur distribusi hujan, terutama dengan mengalihkan hujan dari wilayah daratan yang rawan banjir ke area laut. Strategi ini bertujuan menekan potensi banjir di kawasan padat penduduk.
Namun, Eddy menegaskan pendekatan tersebut tidak bisa dianggap sebagai solusi utama. Ia menyoroti keterbatasan teknologi dalam mengendalikan secara presisi lokasi jatuhnya hujan hasil penyemaian awan.
“(Misalnya) saya pengin awan itu jatuh hujan di Waduk Jati Luhur supaya ditampung dulu. Siapa yang bisa menjamin kalau awannya setelah itu jatuh di Jati Luhur? Teknologi apa, AI mana misalnya, tidak ada kepastian apa pun,” ucap Eddy dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, dikutip Kamis (5/2).
Menurut dia, risiko OMC juga meningkat ketika dilakukan pada kondisi cuaca ekstrem atau di tengah pengaruh siklon. Penyemaian awan dalam situasi tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang sulit diprediksi.
BACA JUGA:
- Pemerintah Resmi Tetapkan Harga Listrik dari Sampah Sebesar US$20 Sen per kWh
- Pramono Siap Ikuti Arahan Prabowo Soal Gentengisasi, Atap Seng akan Dilarang
- Pasar Karbon Indonesia Siap Jalan Juli 2026, Hashim Sebut “Game Changer” Ekonomi Hijau
“Oleh karena itu saran saya coba dikaji ulang, deep analysis, deep science, deep, deep, deep, betul enggak (bermanfaat)?” kata dia.
Selain untuk mitigasi banjir, OMC juga kerap diterapkan untuk memicu hujan buatan saat musim kemarau. Proses ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu, seperti garam (NaCl), ke dalam awan yang dinilai memiliki potensi hujan.
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa tanpa perhitungan yang matang, hujan buatan berisiko tidak efektif dan justru menghabiskan anggaran negara tanpa hasil yang signifikan.
“Konsep dasar hujan buatan itu adalah dikaji lebih mendalam, supaya tepat waktu, kapan, dan di mana,” tutur Eddy.
