Ini Penyebab Utama Banjir dan Longsor di Sumatra Menurut Menteri Kehutanan
JAKARTA, sustainlifetoday.com – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan sejumlah faktor yang saling berkaitan sebagai penyebab bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Penjelasan ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Kamis (4/12) sebagai respon atas bencana ekologis besar yang menelan banyak korban dan merusak infrastruktur di tiga provinsi tersebut.
“Bencana banjir bandang dan longsor khususnya di 3 provinsi yaitu Aceh, Sumut, dan Sumbar terjadi karena kombinasi beberapa faktor yang saling terkait dan mengait,” kata Raja Juli.
Ia memaparkan bahwa faktor pertama berasal dari anomali cuaca ekstrem akibat siklus tropis yang meningkatkan curah hujan secara signifikan. Selain itu, kondisi geomorfologi daerah aliran sungai (DAS) turut memperburuk dampak bencana di wilayah terdampak.
“Namun juga ada karena bentuk geomorfologi DAS, serta yang ketiga adalah tentu karena ada kerusakan pada daerah tangkapan air atau DTA,” katanya.
Baca Juga:
- Pemerintah Kerahkan Analisis Satelit untuk Lacak Kayu Gelondongan di Titik Banjir Sumatra
- BNPB Update Data Korban Banjir Bandang dan Longsor Sumatra: 744 Meninggal, 551 Hilang
- Pemprov DKI Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem dan Potensi Rob di Bulan Desember
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kehutanan juga menyampaikan perkembangan kondisi deforestasi nasional sepanjang tahun 2025. Ia mengklaim bahwa angka deforestasi Indonesia hingga September mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Hingga bulan September menurun sebesar 49.700 hektare jika dibandingkan tahun 2024. Atau menurun 23,01 persen. Penurunan deforestasi tersebut juga teridentifikasi pada 3 provinsi terdampak banjir. Di Aceh menurun sebesar 10,04 persen. Di Sumut menurun sampai 13,98 persen, dan di Sumbar turun 14 persen jika dibandingkan dengan 2024,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan bahwa upaya penguatan tata kelola hutan, termasuk perlindungan daerah tangkapan air, menjadi salah satu prioritas untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Baca Juga:
