Guru Besar IPB: Kekhawatiran Soal Ekspansi Sawit Berlebihan Tidak Berdasar
JAKARTA, sustainlifetoday.com – Perdebatan mengenai dampak ekspansi perkebunan kelapa sawit terhadap kerusakan hutan kembali mengemuka. Namun Guru Besar IPB University, Sudarsono Soedomo, menilai sebagian ketakutan tersebut tidak didukung bukti empiris dan justru mengaburkan persoalan utama tata kelola kehutanan Indonesia.
Dalam tulisannya bertajuk “Kekhawatiran yang Tidak Berdasar” yang diterima SustainLife Today pada Kamis (4/2), Sudarsono menjelaskan bahwa perluasan sawit sering dianggap ancaman terbesar bagi keberlanjutan hutan, terutama oleh komunitas kehutanan dan aktivis lingkungan. Namun menurutnya, kekhawatiran bahwa seluruh hutan akan habis karena sawit adalah asumsi emosional yang tidak sepenuhnya tepat.
Ia menegaskan bahwa Indonesia pernah mengalami over-supply minyak sawit yang menyebabkan harga internasional turun tajam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha tidak mungkin melakukan ekspansi tanpa batas, karena “mekanisme harga tetap berfungsi sebagai rem alami.”
Sudarsono menilai persoalan kehutanan Indonesia jauh lebih kompleks dari sekadar alih fungsi menjadi kebun sawit. Banyak kawasan hutan, kata dia, telah rusak jauh sebelum sawit berkembang pesat.
“Banyak kawasan hutan telah mengalami degradasi parah jauh sebelum kelapa sawit menjadi komoditas dominan, baik akibat pembalakan liar, tata kelola yang lemah, maupun ketidaktegasan negara,” tulisnya.
Ia menyebut akar persoalan justru terletak pada runtuhnya sistem pengelolaan hutan, yang menyebabkan banyak area menjadi open access — tanpa kepastian hukum, tanpa pengelola, dan tanpa strategi pemulihan. Dalam situasi seperti ini, sawit kerap dijadikan kambing hitam yang terlalu mudah.
Baca Juga:
- ESG Initiative Awards 2025 Resmi Digelar, Dorong Transformasi Keberlanjutan di Dunia Usaha Indonesia
- BNPB Update Data Korban Banjir Bandang dan Longsor Sumatra: 744 Meninggal, 551 Hilang
- Pemprov DKI Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem dan Potensi Rob di Bulan Desember
Sudarsono juga menekankan bahwa dalam kondisi tertentu, keberadaan perkebunan sawit legal justru lebih teratur dibandingkan kawasan hutan yang tidak terkelola.
“Produksi sawit, jika dikelola dengan benar, terjadi pada lahan yang relatif stabil dan tidak memerlukan pembukaan baru terus-menerus,” ujarnya.
Meski demikian, Sudarsono tidak menampik bahwa ekspansi sawit tetap memiliki persoalan. Namun ia menilai pendekatan yang menyalahkan satu komoditas justru menutupi masalah struktural yang lebih penting: lemahnya tata kelola, inkonsistensi regulasi, dan absennya visi nasional untuk lanskap ekologis jangka panjang.
Ia menutup tulisannya dengan penekanan bahwa tanpa pembenahan sistemik, kerusakan hutan akan tetap terjadi “dengan atau tanpa sawit.”
