Indonesia Siap Luncurkan NDC 3.0 Jelang COP30, Fokus pada Transisi Hijau
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menjelang Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém, Brasil, Pemerintah Indonesia menegaskan kembali komitmennya terhadap aksi iklim global dengan meluncurkan dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC) versi 3.0. Dokumen ini dirancang sebagai arah strategis menuju target penurunan emisi hingga 2035 dan menjadi dasar menuju net-zero emission 2060 atau lebih cepat.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa NDC 3.0 menargetkan pengurangan emisi sebesar 440 juta ton CO₂e pada 2030, dan 525 juta ton CO₂e pada 2035. Referensi yang digunakan adalah tingkat emisi pada 2019 sebesar 1,14 miliar ton CO₂e.
“Penyusunan dokumen dilakukan secara inklusif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan serta terintegrasi dalam agenda pembangunan nasional,” ujar Hanif dalam keterangannya, Selasa (29/7).
Indonesia juga meminta dukungan berkelanjutan dari UNFCCC untuk memperkuat kapasitas teknis, memfasilitasi pasar karbon, dan memperluas pembiayaan iklim. Menteri Hanif menekankan pentingnya transisi yang realistis, mengingat status Indonesia sebagai negara berkembang.
“Transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan tahapan bertahap, sumber daya besar, dan sinergi lintas sektor,” tegasnya.
Baca Juga:
- Embun Es Selimuti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Wisatawan Diimbau Waspada
- PLN Gandeng Alfamart Bangun Jaringan SPKLU Nasional
- Resmi! Prancis Siap Akui Negara Palestina pada September 2025
Sektor energi dan kehutanan sebagai penyumbang emisi terbesar mendapat perhatian khusus. Pemerintah merancang langkah konkret seperti penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta penguatan kontribusi sektor kehutanan dan tata guna lahan (FOLU).
Peluncuran NDC 3.0 menjadi titik awal untuk periode implementasi 2031–2035. KLH/BPLH juga tengah menyusun skenario pasca-2030 yang akan dituangkan dalam peta jalan jangka panjang untuk mencapai net-zero.
Sebagai bagian dari strategi percepatan, Menteri Hanif mengusulkan agar UNFCCC memfasilitasi forum regional sebagai ruang dialog antarnegara, termasuk pengembangan teknis pasar karbon sukarela.
“NDC 3.0 bukan sekadar angka, tetapi cerminan arah pembangunan jangka menengah Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Hanif.
