Indonesia Masuk Koalisi Pasar Karbon Global, Perkuat Peran Hutan dalam Aksi Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com — Indonesia resmi memperkuat perannya dalam tata kelola iklim global dengan bergabung sebagai anggota The Coalition to Grow Carbon Markets (CGCM), sebuah koalisi internasional yang mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi.
Keanggotaan ini diumumkan oleh Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, dalam diskusi meja bundar bertajuk Advancing Indonesia–UK Collaboration on High-Integrity Carbon Markets yang digelar di kantor pusat Standard Chartered di London, Inggris.
“Hari ini Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets, mewakili sektor kehutanan Indonesia,” ujar Raja Juli dalam siaran pers yang terima, Kamis (22/1).
CGCM pertama kali diluncurkan pada London Climate Action Week pada Juni 2025 dan telah memperkenalkan Shared Principles for Growing High-Integrity Use of Carbon Credits pada COP30 di Brasil. Koalisi ini menjadi platform kolaborasi lintas negara untuk memperkuat pemanfaatan kredit karbon yang kredibel dan berkontribusi nyata terhadap penurunan emisi global.
Bergabungnya Indonesia menempatkan sektor kehutanan nasional sejajar dengan 10 pemerintahan lain yang lebih dahulu menjadi anggota koalisi, termasuk Kanada, Prancis, Panama, Peru, Swiss, Selandia Baru, dan Zambia, serta para Ketua Bersama Koalisi dari Kenya, Singapura, dan Inggris. Seluruh anggota berkomitmen mendorong aksi iklim melalui peningkatan permintaan kredit karbon berintegritas tinggi oleh sektor swasta.
Baca Juga:
- Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan Pascabencana Sumatra
- Survei Median: Publik Nilai Bencana Sumatra Akibat Manusia, Bukan Faktor Alam Dimulai September 2026
- WALHI: Pencabutan Izin Perusahaan Perusak Hutan Harus Disertai Pemulihan Lingkungan
Raja Juli menekankan bahwa kekayaan alam Indonesia—mulai dari hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, ekosistem mangrove yang luas, hingga lahan gambut tropis—menjadi modal alam strategis dalam upaya mitigasi krisis iklim global. Dengan pengalaman dan kapasitas tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi penting dalam mendukung pencapaian target iklim dunia.
Ia juga menyatakan kesiapan Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional dalam meningkatkan permintaan kredit karbon berintegritas tinggi yang berasal dari sektor kehutanan dan solusi berbasis alam.
“Guna mendukung pertumbuhan hijau, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia,” ujarnya.
Menurut Raja Juli, pasar kredit karbon berintegritas tinggi memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan solusi berbasis alam di Indonesia, sekaligus menurunkan emisi, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Sementara itu, Perwakilan Khusus Inggris untuk Iklim Rachel Kyte menyambut baik bergabungnya Indonesia dalam koalisi tersebut. Ia menilai pasar karbon dapat memainkan peran strategis dalam mempercepat pencapaian target iklim nasional berbagai negara.
“Upaya Indonesia dalam solusi berbasis alam akan memastikan Koalisi membantu mendorong investasi sektor swasta ke dalam proyek-proyek berintegritas tinggi yang melestarikan hutan, mengurangi emisi, dan memajukan pembangunan berkelanjutan,” ucap Kyte.
Senada, CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro menilai keikutsertaan Indonesia dalam CGCM berpotensi memperkuat ekosistem pasar karbon nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi hijau ke depan.
“Permintaan terhadap pasar kredit karbon berintegritas tinggi, khususnya yang mendukung solusi berbasis alam,” ujar dia.
