Dorong Inklusi Keuangan, BI Target Perluasan QRIS ke China dan Korsel
Jakarta, sustainlifetoday.com — Bank Indonesia menargetkan perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara dengan China dan Korea Selatan dapat terealisasi pada kuartal I 2026. Langkah ini tidak hanya memperkuat sistem pembayaran nasional di level global, tetapi juga dinilai sejalan dengan agenda keberlanjutan melalui digitalisasi transaksi yang lebih efisien dan inklusif.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa otoritas moneter tengah mempersiapkan implementasi QRIS antarnegara dengan kedua negara tersebut sebagai bagian dari penguatan akseptasi digital.
“Penguatan strategi akseptasi digital melalui persiapan implementasi QRIS Antarnegara Indonesia-China dan QRIS Antarnegara Indonesia-Korea Selatan sekitar kuartal I 2026,” ujar Perry dalam Konferensi Pers RDG Januari, Rabu (21/1).
Dalam konteks keberlanjutan, perluasan sistem pembayaran digital lintas negara berpotensi mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan infrastruktur fisik, sekaligus mendorong efisiensi energi serta kemudahan akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha lintas batas.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menambahkan bahwa proses finalisasi kerja sama dengan China dan Korea Selatan telah memasuki tahap lanjut. Implementasi ini ditargetkan dapat segera digunakan untuk mempermudah mobilitas dan transaksi masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
“Dalam waktu dekat, mudah-mudahan sebelum kuartal 1 kita sudah bisa implementasi dengan China dan juga Korea Selatan,” ujar Filianingsih.
Baca Juga:
- Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan Pascabencana Sumatra
- Survei Median: Publik Nilai Bencana Sumatra Akibat Manusia, Bukan Faktor Alam Dimulai September 2026
- Badai Geomagnetik Level Berat akan Melanda Bumi, BMKG: Indonesia Relatif Aman
Selain China dan Korea Selatan, BI juga membuka peluang perluasan kerja sama QRIS lintas negara dengan negara lain di kawasan Asia. Saat ini, diskusi intensif tengah dilakukan dengan India sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pembayaran regional yang saling terhubung.
“Dan seperti diketahui kita sedang melakukan diskusi yang intens dengan India dan kemungkinan nanti juga dengan beberapa negara lainnya,” jelasnya.
Dari sisi target, BI membidik peningkatan signifikan baik dari jumlah transaksi maupun jangkauan pengguna. Peningkatan ini dinilai dapat memperkuat inklusi keuangan digital sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Kita targetnya 17 miliar transaksi QRIS dan juga 8 negara untuk cross border. Lalu dari sisi supply-nya, 45 juta merchant yang menerima QRIS dan juga 60 juta pengguna Chris ini dari sisi demand-nya,” terang Filianingsih.
Saat ini, layanan QRIS lintas negara telah lebih dulu terhubung dengan sejumlah negara di Asia Pasifik, menciptakan fondasi awal bagi integrasi sistem pembayaran digital yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Nah kita juga melihat bahwa negara mana saat ini kita sudah Singapura, Thailand, Malaysia dan juga Jepang,” pungkasnya.
