Risiko Global Rendah, WHO Pastikan Wabah Hantavirus Bukan Pandemi Baru
Jakarta, sustainlifetoday.com – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization memastikan wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik bukan merupakan awal dari pandemi baru seperti Covid-19. Meski demikian, otoritas kesehatan internasional tetap melakukan investigasi terhadap kasus yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya jatuh sakit.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan risiko kesehatan masyarakat secara umum masih tergolong rendah karena pola penularan hantavirus berbeda dengan virus corona.
“Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan masih rendah,” ujar Tedros dalam keterangannya dilansir dari UN News, Sabtu (9/5).
Hantavirus merupakan virus zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menular ke manusia melalui kontak dengan urin, air liur, maupun kotoran hewan yang terinfeksi. Salah satu strain yang menjadi perhatian adalah Andes hantavirus yang ditemukan di beberapa wilayah Amerika Latin dan diketahui dapat menular secara terbatas antar manusia.
Pelaksana tugas Direktur WHO, Maria Van Kerkhove menegaskan wabah ini berbeda dengan pandemi Covid-19 yang menyebar secara global pada 2020.
“Ini bukan SARS-CoV-2 ini bukan awal dari pandemi Covid. Virus hantavirus sudah ada sejak lama, kita mengenal virus ini, tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona,” kata Maria Van Kerkhove.
BACA JUGA
- Mulai 10 Mei 2026, Jakarta Wajibkan Warga Pilah Sampah Jadi Empat Kategori
- Peneliti IPB Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular untuk Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu
- OJK: Insentif Kendaraan Listrik Berpotensi Tingkatkan Pembiayaan Multifinance
WHO mencatat hingga kini terdapat delapan kasus yang terkait dengan wabah di kapal pesiar tersebut, terdiri dari lima kasus terkonfirmasi laboratorium dan tiga kasus suspek yang diduga terkait dengan strain Andes hantavirus.
Investigasi sementara menunjukkan pasien pertama mengalami gejala pada 6 April 2026 dan meninggal di atas kapal. Istrinya kemudian juga jatuh sakit dan meninggal setelah dievakuasi ke South Africa. Hasil pengujian laboratorium mengonfirmasi infeksi hantavirus.
Sebelum menaiki kapal, pasangan tersebut diketahui melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay untuk kegiatan pengamatan burung. Mereka juga mengunjungi wilayah habitat hewan pengerat pembawa virus.
Kasus lain dilaporkan meninggal pada 2 Mei 2026, sementara satu pasien lain masih menjalani perawatan intensif di South Africa sebelum dipindahkan ke Netherlands untuk perawatan lanjutan.
Tedros mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan masih ada mengingat masa inkubasi Andes hantavirus dapat mencapai enam minggu.
“Virus tidak peduli dengan politik, dan mereka tidak peduli dengan perbatasan. Kekebalan terbaik yang kita miliki adalah solidaritas,” beber Tedros.
WHO menyebut saat ini tidak ada penumpang maupun awak kapal lain yang masih berada di kapal menunjukkan gejala infeksi. Organisasi tersebut juga bekerja sama dengan otoritas kesehatan di Cabo Verde, Spain, Netherlands, South Africa, United Kingdom, dan Argentina untuk memantau perkembangan kasus.
