Ikan Sapu-Sapu Kuasai Perairan Jakarta, Pemprov DKI Targetkan Pengendalian dalam Dua Tahun
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Spesies invasif tersebut dinilai tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati perairan, tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur sumber daya air di ibu kota.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok memperkirakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah perairan umum Jakarta telah mencapai 60 hingga 80 persen.
“Ada beberapa target keberhasilan yang ingin kami capai dari Dinas KPKP, bahwa dalam jangka 2 tahun, populasi yang kami ketahui sampai dengan sekarang bisa mencapai 60 sampai 80 persen di perairan umum di Jakarta, bisa kami kendalikan dan selama 2 tahun menjadi 20 persen,” ujar Hasudungan dalam sebuah webinar dikutip Jumat (8/5).
Pemprov DKI Jakarta menargetkan pengendalian populasi ikan sapu-sapu sebagai bagian dari upaya restorasi ekosistem perairan. Setelah populasi spesies invasif tersebut ditekan, pemerintah berencana melakukan restocking atau penebaran kembali berbagai spesies ikan lokal untuk meningkatkan keanekaragaman hayati di perairan Jakarta.
Namun, Hasudungan menilai pengendalian ikan sapu-sapu tidak dapat dilakukan hanya di wilayah Jakarta. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas daerah, khususnya dengan Provinsi Jawa Barat, mengingat sebagian besar aliran sungai yang bermuara ke Jakarta berasal dari wilayah hulu di luar ibu kota.
BACA JUGA
- IUCN: Masa Depan Konservasi Badak dan Gajah di Indonesia Semakin Menjanjikan
- BMKG Prediksi Jakarta Mulai Masuk Musim Kemarau pada Akhir Mei 2026
- PTPP Perkuat Transformasi ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Terus Membaik
“Jadi, apabila kamii kendalikan hanya di Jakarta, ternyata masih di daerah hulu ataupun di sekitar Jakarta, atau mungkin kemungkinan di Bekasi atau di Tangerang masih ada itu, saya rasa tidak efektif untuk memaksimalkan pengendalian tersebut,” tutur Hasudungan.
Selain pengendalian populasi, Pemprov DKI Jakarta juga mulai mendorong pendekatan ekonomi sirkular melalui hilirisasi ikan sapu-sapu. Pemerintah bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan pemanfaatan hasil tangkapan ikan sapu-sapu menjadi produk non-pangan yang memiliki nilai tambah.
Ikan sapu-sapu disebut berpotensi diolah menjadi pupuk organik, pakan maggot, hingga arang. Pengembangan tersebut tetap mempertimbangkan risiko kandungan logam berat yang dapat terakumulasi di tubuh ikan akibat habitatnya di perairan tercemar.
“Juga ada langkah-langkah untuk hilirisasi (untuk produk) nonpangan yang sudah dilaksanakan ya,” ucapnya.
Di sisi lain, pengendalian ikan sapu-sapu juga dinilai penting untuk menjaga ketahanan infrastruktur perairan Jakarta. Spesies ini diketahui kerap membuat lubang sarang di turap, tanggul, maupun tebing sungai dan waduk untuk bertelur, yang berpotensi mempercepat kerusakan struktur penahan air.
Langkah pengendalian populasi ikan invasif ini menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem perairan Jakarta sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan.
