Panas Ekstrem di ASEAN Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada 2050
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara diproyeksikan menghadapi lonjakan hari dengan suhu panas ekstrem dalam beberapa dekade ke depan. Laporan ASEAN Center for Energy memperkirakan sejumlah kota di ASEAN dapat mengalami 85 hingga 120 hari dengan temperatur di atas 35 derajat Celsius pada 2050, meningkat tajam dibandingkan 25 hingga 45 hari pada tahun lalu.
Peningkatan suhu ekstrem tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, produktivitas, hingga ketahanan sistem energi di kawasan.
“ASEAN menghadapi risiko panas yang semakin meningkat akibat urbanisasi yang pesat, perubahan iklim, dan meningkatnya permintaan energi,” demikian dikutip dari laporan ASEAN Center for Energy bertajuk Roadmap for Extreme Heat Protection Through Passive Cooling in ASEAN Region, dikutip Sabtu (9/5).
Bangkok menjadi salah satu kota yang diproyeksikan mengalami dampak paling signifikan. Jumlah hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius di ibu kota Thailand itu diperkirakan meningkat dari 45 hari tahun lalu menjadi 120 hari pada 2050.
Kenaikan jumlah hari panas ekstrem tersebut sejalan dengan peningkatan temperatur rata-rata tahunan Bangkok yang diperkirakan naik dari 34,2 derajat Celsius tahun lalu menjadi 35,2 derajat Celsius pada 2030, lalu 36,9 derajat Celsius pada 2040, dan mencapai 38,1 derajat Celsius pada 2050.
Sementara itu, Jakarta juga diprediksi mengalami peningkatan suhu yang signifikan. Jumlah hari dengan panas ekstrem di ibu kota Indonesia diperkirakan naik dari 38 hari tahun lalu menjadi 95 hari pada 2050.
Temperatur rata-rata tahunan Jakarta diproyeksikan meningkat dari 32,8 derajat Celsius menjadi 34,1 derajat Celsius pada 2030, lalu 35,2 derajat Celsius pada 2040, dan mencapai 36,4 derajat Celsius pada 2050.
BACA JUGA
- Mulai 10 Mei 2026, Jakarta Wajibkan Warga Pilah Sampah Jadi Empat Kategori
- Peneliti IPB Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular untuk Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu
- PTPP Perkuat Transformasi ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Terus Membaik
Laporan tersebut menyebut urbanisasi menjadi salah satu faktor utama yang memperparah fenomena panas ekstrem di perkotaan. Kepadatan bangunan, minimnya ruang terbuka hijau, serta dominasi material seperti beton dan aspal membuat kawasan kota lebih mudah menyerap dan menyimpan panas.
Di sisi lain, peningkatan suhu juga diperkirakan mendorong konsumsi listrik akibat tingginya penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Kondisi ini dinilai berisiko memperbesar emisi gas rumah kaca, terutama di negara-negara ASEAN yang masih bergantung pada energi fosil untuk pembangkit listrik.
Sebagai solusi, ASEAN Center for Energy mendorong penerapan strategi pendinginan pasif dan solusi berbasis alam untuk mengurangi ketergantungan pada pendingin mekanis.
“Dengan memanfaatkan desain bangunan, ventilasi alami, peneduh, insulasi, dan sifat termal dari selubung bangunan,” demikian tertulis dalam laporan.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menekan kebutuhan pendinginan berbasis mesin hingga 24 persen pada 2050.
“Ini menghemat biaya peralatan hingga US$3 triliun dan memangkas setara 1,3 miliar ton CO2e, sekaligus meningkatkan kesehatan, produktivitas, dan keadilan termal bagi masyarakat yang tidak mampu mengakses sistem pendingin mekanis,” demikian dikutip dari laporan.
