Gibran Sebut Parfum LV-Gucci Terbuat dari Kemenyan, Ini Faktanya
Jakarta, SustainLife Today — Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka kembali jadi sorotan publik usai menyebut bahwa parfum mewah seperti Louis Vuitton dan Gucci mengandung kemenyan, komoditas aromatik yang banyak ditemukan di hutan Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya di Istana Wakil Presiden, Senin (14/7).
“Ibu‑ibu yang pakai parfum LV, Gucci, dan lain‑lain itu dari kemenyan lho,” ujar Gibran di hadapan peserta Pendidikan P4N Angkatan 68.
“Saya pernah bicara itu masalah hilirisasi kemenyan, banyak yang ketawa. Kemenyan buat dukun, salah. Kemenyan itu sama berharganya dengan nikel. Kita jualnya mentah terus,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut sontak viral dan memicu berbagai tanggapan, mulai dari guyonan di media sosial hingga analisis serius dari pengamat industri dan lingkungan. Banyak yang mempertanyakan kebenaran dari klaim tersebut, sekaligus menyoroti relevansi gagasan hilirisasi komoditas lokal.
Benarkah kemenyan menjadi bahan parfum?
Berdasarkan penelusuran SustainLife Today dari berbagai sumber, pernyataan Gibran bukan tanpa dasar. Kemenyan yang dimaksud Gibran merujuk pada resin aromatik dari pohon Styrax dan Boswellia, yang dikenal secara internasional dengan nama benzoin atau frankincense. Resin ini memiliki aroma manis, hangat, dan bersifat fiksatif, yaitu mampu mengikat aroma agar parfum tahan lebih lama di kulit.
Beberapa parfum dari merek ternama seperti Gucci Bloom Ambrosia di Fiori, Louis Vuitton Matière Noire, Chanel Sycomore, hingga Tom Ford Oud Wood tercatat menggunakan benzoin resin atau olibanum sebagai salah satu komposisi aroma dasar (base note).
Baca Juga:
- Memahami Kehidupan hingga Kondisi Arktik Terkini dari Film “Sore: Istri dari Masa Depan”
- Uni Eropa Desak China Ambil Peran Global Hadapi Krisis Iklim
- Pegadaian dan PNM Latih Difabel Bantul Berwirausaha Lewat Batik dan Digital Marketing
Resin ini tidak hanya digunakan dalam industri parfum, tetapi juga pada produk skincare, salep tradisional, lilin aromaterapi, hingga dupa premium.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil resin kemenyan terbesar di dunia. Wilayah-wilayah seperti Tapanuli, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat di Sumatera Utara telah lama menjadi sentra produksi pohon Styrax sumatrana, sumber utama kemenyan lokal.
Namun sayangnya, mayoritas hasil kemenyan Indonesia selama ini hanya diekspor dalam bentuk raw material (bahan mentah), tanpa pengolahan lebih lanjut.
Menurut data Kementerian Perdagangan dan laporan NGO lingkungan, lebih dari 95% produksi kemenyan Indonesia dijual sebagai resin mentah ke negara-negara seperti Prancis, Swiss, India, dan Tiongkok. Di sana, resin tersebut diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi dan dijual kembali ke pasar internasional. Hal ini sejalan dengan kritik Gibran soal minimnya hilirisasi dalam pengelolaan komoditas lokal.
Di tengah tuntutan global untuk produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, industri resin alami seperti kemenyan sebenarnya memiliki potensi yang besar. Kemenyan merupakan produk yang dapat dipanen secara lestari tanpa merusak pohon, menjadikannya cocok sebagai komoditas hijau.
Beberapa UMKM di Indonesia telah mulai mengembangkan produk turunan dari kemenyan, seperti parfum lokal, lilin aromaterapi, hingga sabun alami. Namun, tanpa dukungan sistemik dan rantai pasok yang kuat, produk-produk ini belum mampu bersaing secara global.
Pernyataan Gibran bahwa parfum mewah mengandung kemenyan terbukti benar secara ilmiah dan industri. Resin kemenyan telah lama digunakan sebagai salah satu bahan dasar dalam parfum premium karena karakter aromanya yang kuat dan fungsionalitasnya sebagai fiksatif. Namun, tantangan Indonesia adalah mengubah peran dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah.
