Memahami Kehidupan hingga Kondisi Arktik Terkini dari Film “Sore: Istri dari Masa Depan”
Jakarta, SustainLife Today — “Arctic punya zona waktu nol, karena semua garis waktu bertemu di sana.” Kalimat ini mungkin terdengar seperti catatan ilmiah biasa bagi sebagian penonton, namun dalam film Sore: Istri dari Masa Depan, kalimat tersebut justru menjadi kunci untuk memahami bagaimana seorang perempuan dari masa depan bisa hadir kembali ke masa lalu untuk memperbaiki sesuatu yang belum sempat ia selamatkan.
Film garapan sutradara Yandy Laurens yang dibintangi oleh Dion Wiyoko dan Sheila Dara ini memang menggabungkan genre drama romantis dengan sentuhan fiksi ilmiah ringan, sebuah formula menarik yang sukses dieksekusi oleh Yandy Laurens. Namun di balik kisah cinta lintas waktu yang mengharukan, film ini menyisipkan konsep sains yang tak banyak dibahas di perfilman lokal, yaitu zona waktu nol di Kutub Utara, atau yang dalam geografi dikenal sebagai Arctic.
Lalu, apa yang dimaksud dengan Zona Waktu Nol?
Dalam dunia waktu dan astronomi, zona waktu nol merujuk pada UTC+0 (Coordinated Universal Time), sistem waktu global yang menjadi standar untuk semua zona waktu di dunia. Greenwich, Inggris, adalah lokasi yang paling sering dikaitkan dengan garis bujur 0°, namun yang unik, semua garis bujur sesungguhnya bertemu di Kutub Utara. Hal ini menjadikan Arctic sebagai satu-satunya titik di dunia di mana semua zona waktu bertemu, dan karenanya dianggap tidak memiliki zona waktu tetap.
Saat berada di wilayah Kutub Utara, para ilmuwan atau ekspedisi biasanya menggunakan zona waktu dari negara asal mereka atau zona waktu praktis sesuai kebutuhan logistik. Namun secara simbolis, Arctic adalah ruang bebas waktu atau justru titik nol waktu.
Baca Juga:
- Industri Data Center Terancam Risiko Iklim, Potensi Kerugian Capai Miliaran Dolar?
- Menlu Sugiono Sebut ASEAN Mesti Jadi Magnet Investasi Berkelanjutan
- Kapasitas Listrik Energi Terbarukan Global Naik 15,1%, Pertumbuhan Didominasi Asia
Konsep ini memiliki implikasi mendalam, tak hanya bagi studi waktu dan geografi, tapi juga untuk narasi fiksi yang menyentuh soal perjalanan waktu, perubahan takdir, dan kemungkinan mengulang kembali kehidupan.
Dalam film ini, Sore, pemeran utama dari film ini datang dari masa depan untuk bertemu dengan Jonathan, pria yang nantinya akan menjadi suaminya. Tujuannya bukan sekadar nostalgia, tetapi untuk mengubah keputusan yang akan berdampak besar pada masa depan Jonathan, dan mungkin juga dirinya sendiri.
Dalam film ini memang tidak dijelaskan secara teknis bagaimana Sore bisa melakukan perjalanan waktu untuk kembali bertemu Jonathan. Tidak ada mesin waktu, laboratorium rahasia, atau teori kuantum yang dirinci. Sebagai gantinya, kita diberi simbol berupa zona waktu nol di Kutub Utara, titik netral di mana masa lalu dan masa depan bisa saling menyentuh.
Jika dipahami lebih dalam, film Sore: Istri dari Masa Depan ini tidak menawarkan sains-fiksi ala Hollywood, tetapi filsafat waktu, yaitu bahwa setiap manusia bisa sampai ke titik nol, titik di mana ia bisa melihat ulang keputusannya, memperbaiki arah, dan memilih versi hidup yang lebih baik.
Titik nol waktu tidak harus berarti tempat secara fisik. Bisa juga menjadi metafora tentang momen dalam hidup, ketika seseorang merasa berada di ambang perubahan besar. Dalam konsep ini, Arctic menjadi simbol berupa tempat sunyi, netral, tak tersentuh hiruk-pikuk dunia, serta tempat kita bisa menghadapi diri sendiri dengan jujur.
Sore datang dari masa depan bukan hanya karena teknologi, tapi karena kesadaran bahwa ada sesuatu yang perlu ia ubah di masa lalu. Dalam konteks ini, zona waktu nol bukan mesin waktu, tapi simbol waktu yang paling jujur, waktu yang belum diisi, waktu yang masih bisa dipilih.
Menariknya, Kutub Utara dalam kehidupan nyata saat ini juga sedang mengalami perubahan besar, bukan soal waktu, tapi iklim. Arctic menjadi salah satu wilayah yang paling cepat mengalami dampak pemanasan global akibat krisis iklim. Es mencair, ekosistem rusak, dan keseimbangan iklim dunia terancam. Dunia sedang menuju “titik kritis”, dan sekali lagi, kita dihadapkan pada titik nol, pilihan apakah akan mengubah arah untuk masa depan yang lebih baik, atau tetap maju menuju kehancuran dunia.
Dalam konteks inilah film “Sore: Istri dari Masa Depan” menjadi relevan bagi Sustain Peeps. Kita hidup di masa kini, tapi keputusan kita berdampak pada masa depan. Kita mungkin tidak bisa kembali ke masa lalu seperti Sore, tapi kita bisa membuat keputusan yang benar di hari ini agar generasi mendatang tidak perlu menyesal dan kembali ke belakang untuk memperbaikinya. Jika lebih didalami, film Sore: Istri dari Masa Depan bukan hanya sekedar romansa cinta seseorang, namun maknanya lebih luas dari itu.
