Emisi Karhutla Indonesia Tembus 19,7 Juta Ton dan Jadi Tertinggi di Dunia
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melepaskan 19,7 juta metrik ton emisi pada periode 1 hingga 7 September 2026, menjadikannya yang tertinggi di dunia. Data dari portal Fire Emissions Watch yang dikembangkan oleh layanan pemantauan iklim Copernicus milik Uni Eropa menunjukkan bahwa lonjakan emisi ini melampaui Rusia dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global.
Melansir dari CNA, Jumat (11/9/2026), otoritas terkait menyatakan bahwa Indonesia tengah menghadapi musim karhutla paling parah dalam 11 tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh fenomena cuaca Super El Nino yang membawa kekeringan ekstrem dan lonjakan suhu yang signifikan.
“Kami memang memperkirakan akan terjadi beberapa kebakaran di wilayah ini pada waktu-waktu seperti sekarang, tetapi keberadaan El Niño jelas memberikan dorongan yang sangat besar,” ujar Mark Parrington, Ilmuwan Senior di Copernicus Atmosphere Monitoring Service.
“Kondisinya jauh lebih kering, lebih panas, dan begitu ada titik api, kebakaran tersebut membakar dengan cara yang jauh lebih ekstrem,” paparnya lagi.
Menurut data Copernicus, konsentrasi titik api tertinggi berada di Kalimantan dan bagian timur Sumatra. Intensitas emisi tercatat melampaui 1.500 kg per kilometer persegi, atau lebih dari 10 kali lipat tingkat emisi di Rusia. Angka ini melonjak 273 persen lebih tinggi dari rata-rata musiman, meskipun masih sedikit di bawah rekor 21,7 juta ton pada pekan yang sama di tahun 2015.
Kondisi ini memicu krisis kualitas udara. Di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, indeks kualitas udara (AQI) menyentuh angka 394 pada hari Rabu berdasarkan data perusahaan pemantau asal Swiss, IQAir—masuk dalam kategori sangat berbahaya.
BACA JUGA
- Dukung Produktivitas Korporasi, Swiss-Belhotel Pondok Indah Hadirkan Ruang Pertemuan Fleksibel dan Strategis
- Proyeksi PPI dan Suku Bunga AS Jadi Penentu Harga Emas, Ketidakpastian Geopolitik Perkuat Peran Safe Haven
- Antisipasi Dampak El Nino, Pemerintah Kucurkan Bansos Beras Rp17 Triliun untuk 33 Juta Jiwa
Merespons situasi ini, Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan keprihatinannya atas kualitas udara yang memburuk di Kalimantan dan wilayah terdampak lainnya. Kementerian juga terus memantau data Copernicus, namun menggarisbawahi bahwa data satelit tersebut tidak secara langsung maupun tunggal mencerminkan kondisi kualitas udara lokal, mengingat adanya faktor-faktor lain yang turut memengaruhi.
Fire Emissions Watch mengandalkan pengamatan satelit untuk mengukur kadar debu halus, gas rumah kaca, dan polutan lainnya. Namun, Parrington memperingatkan bahwa angka emisi riil di lapangan berpotensi jauh lebih besar akibat karakteristik lahan gambut.
“Salah satu keunikan kebakaran lahan gambut adalah jika api membakar pada suhu rendah atau berada di bawah permukaan tanah, ukurannya bisa berada di bawah batas deteksi sensor satelit. Artinya, ada kebakaran yang sebenarnya tidak terlihat oleh kita,” jelas Parrington.
Berkaca pada krisis 2015, karhutla di Indonesia saat itu menghasilkan emisi harian melampaui gabungan emisi seluruh Uni Eropa, serta memicu lebih dari 100.000 kematian prematur di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Menghadapi sisa musim kemarau tahun ini, kewaspadaan tinggi sangat diperlukan.
“Kita harus ingat bahwa ini masih awal musim, dan kami memperkirakan kebakaran akan terus berlanjut serta emisi akan terus meningkat, berpotensi hingga akhir Oktober, seperti yang terjadi pada tahun 2015,” kata Parrington.
“Dalam dua bulan kita akan mengetahui seberapa ekstrem tahun ini, tetapi indikasi awal menunjukkan pergerakannya sama cepatnya, atau bahkan sedikit di atas tahun-tahun El Niño sebelumnya,” tambahnya.
