Eddy Soeparno: Kebakaran TPA Jatiwaringin Jadi Alarm Percepatan Waste-to-Energy
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kebakaran yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, dinilai menjadi peringatan bahwa sistem pengelolaan sampah berbasis penimbunan sudah tidak lagi memadai. Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mendorong percepatan penerapan teknologi Waste-to-Energy (WTE) sebagai bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional sekaligus penguatan ekonomi sirkular.
“Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar,” ujar dia dikutip pada Senin (6/7).
Eddy mengatakan Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di tempat pemrosesan akhir, sehingga meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana, memperbesar potensi pencemaran lingkungan, sekaligus menyebabkan hilangnya potensi ekonomi dari sampah.
Karena itu, ia meminta pembangunan fasilitas Waste-to-Energy dipercepat di berbagai daerah. Menurutnya, teknologi tersebut mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus menghasilkan energi listrik.
BACA JUGA
- BP Tapera dan GoTo Hadirkan KPR DP 0 Persen bagi Mitra Driver Gojek
- Kasus Gratifikasi Bupati Kuansing, Raja Juli Pastikan Tak Ada SK Pelepasan Hutan Baru
- Empat Pelaku Penyembelihan Tapir Viral di Mesuji Ditangkap Polisi
“Bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah,” kata dia.
Eddy menambahkan, teknologi WTE telah diterapkan di berbagai negara dengan standar lingkungan yang ketat. Ia memastikan MPR akan mengawal proses pembangunan dan operasional fasilitas tersebut agar memenuhi ketentuan lingkungan hidup, menggunakan teknologi terbaik yang tersedia, serta dilaksanakan secara transparan.
Sebelumnya, kebakaran melanda TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (30/6). Hingga Minggu (5/7), api masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Dalam keterangan resminya, KLH/BPLH menduga kebakaran dipicu kondisi cuaca panas yang memunculkan titik api pada timbunan sampah sebelum akhirnya menjalar ke area lainnya. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan setelah proses penanganan darurat selesai.
“Penyebab pasti akan diselidiki setelah kondisi darurat berhasil dikendalikan,” dalam pernyataannya.
