BRIN Kembangkan Bahan Bakar Kapal dari Limbah Sawit dan Styrofoam
Jakarta, sustainlifetoday.com – Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan minyak pirolisis (pyrolysis oil) berbahan baku pelepah kelapa sawit dan limbah polistirena (styrofoam) yang berpotensi dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar kapal. Inovasi ini menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah sekaligus mendukung pengurangan emisi di sektor pelayaran.
Gagasan tersebut berangkat dari tingginya penggunaan bahan bakar minyak berat atau high sulfur fuel oil (HSFO) pada kapal-kapal pengangkut barang antarnegara. Jenis bahan bakar tersebut diketahui menghasilkan emisi sulfur yang tinggi dan berkontribusi terhadap pencemaran udara.
“Yang membuat penelitian ini penting bukan hanya karena menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi karena campuran bahan bakar tersebut mampu memperbaiki kualitas bahan bakar kapal yang sudah beredar saat ini,” ujar Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, dikutip dari laman BRIN, Selasa (23/6).
Dalam penelitian tersebut, tim BRIN memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit yang melimpah di Indonesia serta sampah styrofoam yang sulit terurai. Kedua bahan tersebut diproses melalui teknologi pirolisis, yaitu pemanasan tanpa oksigen, sehingga menghasilkan minyak cair yang kemudian dicampurkan dengan bahan bakar kapal konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan minyak pirolisis berhasil diperoleh dengan rendemen lebih dari 56 persen. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian dan plastik sebagai sumber energi alternatif yang bernilai tambah.
BACA JUGA
- Kasus Serangan Pembela HAM Lingkungan Naik 93 Persen pada 2025
- Inpres Perlindungan Gajah Segera Terbit, Pembangunan Wajib Perhatikan Jalur Satwa
- KKP Bangun Lab Uji Radioaktif Pertama di Asia Tenggara untuk Produk Perikanan
Salah satu hasil yang dinilai signifikan adalah kemampuan campuran minyak pirolisis dalam menurunkan viskositas atau tingkat kekentalan bahan bakar kapal. Dalam operasional pelayaran, bahan bakar yang terlalu kental umumnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan pada mesin kapal.
Dengan tingkat kekentalan yang lebih rendah, kebutuhan energi untuk proses pemanasan dapat ditekan sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional.
“Formula ini mampu mempertahankan kualitas bahan bakar sesuai standar bahan bakar kapal sekaligus memberikan manfaat lingkungan yang signifikan,” papar dia.
Selain meningkatkan karakteristik bahan bakar, penelitian ini juga menunjukkan potensi penurunan kandungan sulfur yang menjadi salah satu sumber utama emisi sulfur oksida dari sektor pelayaran.
Semakin rendah kandungan sulfur, semakin kecil pula dampak pencemaran udara yang dihasilkan. Hal ini sejalan dengan berbagai upaya global untuk menekan emisi dari industri maritim dan mendukung transisi menuju transportasi yang lebih berkelanjutan.
Menurut Dieni, keunggulan lain dari inovasi tersebut adalah kemudahan implementasinya dibandingkan teknologi bahan bakar alternatif lain seperti hidrogen atau amonia yang masih membutuhkan investasi infrastruktur dalam jumlah besar.
Campuran bahan bakar hasil penelitian ini berpotensi digunakan pada sistem yang telah ada dengan penyesuaian yang relatif minimal.
Penelitian tersebut juga memperlihatkan bagaimana limbah pertanian dan plastik dapat menjadi bagian dari solusi ekonomi sirkular sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.
“Solusi energi masa depan tidak selalu harus berasal dari sumber baru, tetapi bisa juga berasal dari limbah yang selama ini kita abaikan,” ujar Dieni.
