Dinilai Lebih Efektif, Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Komunitas Terkendala Akses Pendanaan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Alokasi pembiayaan untuk penanganan emisi gas metana dari sektor persampahan nasional dinilai masih mengalami ketimpangan tajam. Skema pendanaan global dan domestik saat ini masih sangat mendominasi proyek-proyek Waste-to-Energy (WtE), sementara inisiatif pengelolaan sampah organik berbasis komunitas lokal memperoleh porsi yang sangat minim.
Director of Climate Policy Initiative sekaligus Dewan Pengarah Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), Tiza Mafira, mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen dana penanganan metana sektor sampah terserap oleh proyek WtE. Di sisi lain, sektor pengelolaan sampah organik dari sumbernya hanya menerima sekitar 1 persen dari total pendanaan.
Menurut Tiza, ketimpangan struktur pembiayaan tersebut perlu segera dikoreksi. Pengalihan sampah organik agar tidak berakhir dan membusuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbukti membutuhkan belanja modal (capital expenditure) dan biaya operasional (operational expenditure) yang jauh lebih efisien dibandingkan pembangunan fasilitas WtE skala besar.
“Perlu penguatan pendanaan untuk memperluas sistem, bukan hanya pilot project. Solusi zero waste yang dipimpin secara lokal membutuhkan dukungan jangka panjang, sesuai dengan hirarki pengelolaan sampah,” kata Tiza di Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Kongres internasional yang diinisiasi oleh Dietplastik Indonesia, AZWI, dan GAIA Asia Pacific tersebut menyoroti bagaimana keterbatasan akses pembiayaan membuat berbagai inisiatif zero waste berbasis masyarakat sulit dinaikkan skalanya (scale-up).
Model pengelolaan sampah terdesentralisasi berbasis komunitas selama ini kerap terkendala dalam mengakses fasilitas pembiayaan konvensional akibat skala usaha yang dianggap kecil, keterbatasan jaminan aset, serta arus pendapatan yang belum sepenuhnya dapat diproyeksikan secara formal.
BACA JUGA
